Laman

Sabtu, 27 November 2010

IBU MEINAR GURUKU

Saat pertama kali 10aku mengenalnya sekitar 1983 adalah saat yang menggembirankan buatku. Beliau inilah yang sering kulihat di televisi ( waktu itu hanya ada Televisi Republik Indonesia ) dan waktu itu pula aku bisa menjadi siswanya. Rasanya seperti diajar oleh seorang artis. dan aku sangat bangga bisa masuk di SPG Negeri 1 Jakarta tempat beliau bertugas sehari – hari. Dalam pandanganku beliau adalah seorang yang disiplin terutama untuk masalah kerapian berpakaian dan ketepatan waktu. Beliau kurang berkenan kalau murid-muridnya datang terlambat keruangannya. Pernah dalam suatu pelajarannya aku hanya belajar dengan sekitar 10 teman. Karena teman – teman yang lain datang terlambat, sehingga oleh beliau tidak diperkenankan masuk ke ruangannya. Cara beliau mengajar dengan perkatan yang lemah lembut inilah yang akhirnya mampu memberikan pencerahan kepadaku tentang pemahaman akan ilmu musik., Dimana sebelumnya, waktu SMP rasanya aku sulit sekali untuk memahami teori – teori musik. Dari cara beliau mengajar inilah sedikit – demi sedikit aku bisa menyukai musik. Dan akhirnya setelah naik ke kelas II, aku mantapkan diri untuk mengambil spesialisasi musik sebagai pilihan dalam penjurusan. Dari mulai tahapan hanya sekedar bisa akhirnya dapat berubah manjadi tahap kecintaan, dan berkat beliaulah aku menjadi  mencintai pelajaran seni musik. Rasa keinginantahuanku terhadap musik selalu beliau penuhi dengan jawaban – jawaban yang sangat mudah kupahami. Karena mungkin melihat tekatku yang besar dalam mempelajari musik, beliau mempercayakan kunci ruangan musik kepadaku. Buatku ini adalah suatu pemberian kepercayaan yang sangat luar biasa. Dalam pandanganku, Ruang Musik di sekolahku itu adalah ruangan yang mewah, yang di dalamnya terdapat berbagai macam alat musik dengan nilai yang mahal untuk ukuran pada saat itu. Dan aku diberi kepercayaan untuk memegang kunci ruangan itu serta diperbolehkan memainkan alat – alat yang aku suka. Rasanya ini seperti hadiah yang sangguh luar biasa dalam hidupku. Dan kepercayaan itu tidak kusia-siakan, yaitu dengan belajar lebih giat lagi waktu mengikuti pelajaran yang beliau berikan, juga banyak menggunakan waktu-waktu luang di sekolah dengan belajar memainkan alat-alat musik yang ada di ruangan musik itu. Dan alat musik yang aku sukai di ruangan itu adalah organ. Jika aku mengalamai kesulitan dengan cara memainkan alat musik itu, ibu Meinar lah yang memberi petunjuk bagaimana cara bermainnya. Dari seringnya menggunakan waktu luang untuk bermain musik di ruang musik itulah, aku memiliki ketrampilan yang lebih dalam hal bermain organ, dan dari ketrampilan ini pula yang kini aku jadikan sebagai senjata andalanku dalam melaksanakan tugasku sehari-hari sebagai guru musik di SD Islam Al Hasanah Ciledug Kota Tangerang. Terakhir aku berjumpa beliau pada waktu halal  bihalal Hari Raya Idhul Fitri 1430 H. Kini aku hanya dapat berdoa semoga kesehatan selalu bersamanya dan kebahagiaan melingkupi di hari – hari tuanya. Terimakasih ibu Meinar atas segala ilmu yang telah  ibu berikan, dan hanya Allah SWT lah yang akan membalas segala jasa dan jerih payah yang ibu berikan untuk kami dan teman - teman….

Selasa, 02 November 2010

KARTU ASKESKU

Melihat gambarnya di kartu berwarna kuning yang berukuran 5,5 cm x 8,5 cm pikiranku terus melayang tentang masa depan yang lebih terjamin untuk masalah kesehatan. Aku merasa tidak perlu lagi memikirkan masalah biaya pengobatan yang sekarang ini melambung jauh tinggi ke awan. Jika memiliki keluhan kesehatan sedikit saja aku bisa langsung datang ke rumah sakit yang melayanai ASKES, terbayang sudah perawat - perawat yang manis dan ramah, dokter - dokter yang cermat dan penuh perhatian dengan segala keluhan- keluhan yang akan aku bicarakan. Dan dengan wajah yang menenteramkan selalu memberikan solusi yang terbaik buat alternatif pengobatan yang terjangkau buatku. Itu semua dilakukan di dalam suatu ruangan yang sejuk , bersih dan wangi. Karena fantasiku itu aku untuk beberapa lama menimang - nimang kartu itu, mIMG_6083engamatinya dengan penuh perhatian, membalik-balikannya dengan hati - hati, karena takut kalau kartu ini ada lipatannya ataupun rusak. Wah rasanya bahagia sekali bisa memiliki kartu yang bisa menjamin akan kesehatan jika kita mengalami musibah ataupun mendapat rizki dari Allah berupa sakit. Apalagi kalau melihat prinsip Perusahan yang menerbitkan kartu berwarna kuning itu yaitu Prinsip Customer Focused Company yang artinya memberikan pelayanan prima kepada seluruh customer, baik eksternal, maupun internal. Rasa2nya aku berani membusungkan dada sambil berkata "Hayo sini.. penyakit apa yang berani datang padaku, pasti aku tumpas karena aku punya senjata yang ampuh " KARTU ASKES".
We ladalah... ampuh tenan aku.....sekti mondro guno aku...
Walau begitu sejujurnya aku berharap tidak untuk menggunakannya. Karena deng an tidak menggunakannya itukan berarti Aku dan keluargaku selalu dalam keadaan sehat wal'afiat. tetapi manusia itu hanya punya keinginan, sedangkan ketentuan Allah SWT lah yang memiliki Nya. Tiba suatu saat... ujian itu datang, Allah memberikan rizki berupa sakit lewat putriku. Dengan prinsip setiap penyakit ada obatnya, dan berbekal senjata KARTU ASKES datanglah aku ke Puskesmas untuk minta surat rujukan. Puskesmas yang kudatangi itu tidak begitu besar, tapi setiap hari penuh dengan warga masyarakat yang ingin berobat. Bahkan sebelum buka yaitu pukul 08.00 sudah banyak yang antri. Mereka katanya datang dari pukul 07.00 supaya bisa dapat pelayanan yang pertama. Aku ikut berdesak-desakan dengan warga yang lain. Tapi ternyata aku salah. Yang berdesak-desakan itu mereka yang berobat non ASKES. sedangkan yang ASKES mendaftar di ruangan tersendiri. Akhirnya aku bisa mendapatkan surat rujukan tersebut tanpa sepeserpun uang keluar dari kantong. Wah senjataku bener-bener ampuh.
Sorenya dengan gagah perkasa kuajak putriku berobat di sebuah rumah sakit yang melayani askes. Sampai di sana masih sepi karena aku mendaftar pukul 5 sore kurang. Aku yakin aku pasti mendapat yang pertama. Karena dokternya dateng setelah maghrib maka kuajak putriku untuk makan sore di warung yang ada di sekitar rumah sakit itu sambil menunggu dokter. Singkat cerita aku sudah selesai makan dan sholat maghrib maka aku menuju ruang tunggu... setelah di ruang tunggu beberapa saat kok putriku tidak dipanggil-panggil malah pasien yang lain yang keluar masuk ruang praktek dokter. karena heran aku ke suster penjaga menanyakan putriku itu no urut berapa. lalu diberi jawaban bahwa putriku no urut 9. Aku protes dengan mengatakan bahwa aku mendaftar dari sekitar jam 5 kurang kenapa bisa no urut 9. Suster tersebut tidak bisa menjawab hanya malah menyuruhku untuk duduk di ruang tunggu saja. Aku bertanya- tanya ada apa ini.. dengan sedikit rasa kesal dan lama menunggu akhirnya tiba giliran putriku diperiksa, hasil diagnosa dokter mengharuskan putriku untuk diperiksa di Lab. Hasil uji akan diberikan seminggu kemudian, dan aku diberikan kwitansi yang harus dibayar. Di dalam kwitansi tertulis 3 item dengan tulisan yang telah dibayar sekian - sekian - sekian dengan jumlah hampir mendekati 500 ribu. aku berfikiran tenang sudah dibayar oleh ASKES. Tetapi sesampai di kasir jumlah itulah yang harus aku bayar. aku protes lagi ke kasir karena di kwitansi tertulis telah dibayar. karena aku terus bertanya akhirnya aku diminta kembali ke Lab. untuk minta penjelasana tentang pembayaran. Ketika di Lab. petugasnya tidak mau menjelaskan karena itu tugas kasir. Aku balik lagi ke kasir, ya kembali lagi aku ngotot kan kalimatnya tertulis sudah dibayar, akhirnya kemanisan wajah kasir itu hilang, sambil sedikit ngotot dia mengatakan bapak sudah dibayar askes dan ini sisanya yang harus saya bayar. aku tanya lagi kenapa rinciannya begini. aku hanya minta penjelasan berapa sebenarnya pembayaran untuk 3 item yang dilakukan di Lab. lalu berapa % nya yang dibayar oleh ASKES, nah jadi sisanya aku kan jelas berapa harus membayar. Karena permintaanku itu si kasir menyuruhku lagi untuk ke Lab. Wah ternyata hari itu aku diputer2 hanya karena pingin tau rincian secara seharusnya. Dengan jumlah yang harus aku bayarkan itu, rasanya KARTU KUNINGKU itu tidak sakti lagi. Lebih sedih lagi waktu itu aku hanya membawa uang 200 ribu. Akhirnya aku telpon istri untuk membawa uang apa saja yang ada untuk menutupi kekurangannya. Aku baru sadar ternyata dengan kartu ASKES itu aku hanya bisa mendapatkan antrian yang jauh di belakang walau sudah mendaftar dari pertama, dan juga tidak mendapatkan transparansi tentang jumlah sebenarnya yang harus dibayarkan oleh anggota ASKES sepertiku. Padahal kalau melihat prinsip perusahaan pembuatnya yang berbunyi Customer Focused Company, sangat jauh dari harapan. Yah mungkin orang kecil memang itu jatahnya..

Rabu, 11 Agustus 2010

SAMPAI LUPA

Sudah agak lama aku tidak menulis di blog ku sendiri. bahkan hampir - hampir lupa  passwordnya. Memang setiap akhir tahun pelajaran, sangat - sangat menyita semua pikiran, energi, waktu dan seluruh daya yang ada pada diriku untuk membuat suatu acara yang mengesankan buat semua anak - anak didik ku. Sebenarnya mengesankan itu sangat mudah diucapkan, tetapi mewujudkannya perlu usaha yang sangat keras. Mengesankan disini artinya disukai oleh semua anak - anak. Bisa diikuti oleh semua anak - anak ( diusahakan semua anak bisa terlibat dalam acara ). bervariasi, berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, memiliki tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Orang tuanya jadi bangga dan senang dengan prestasi anak2nya... ini benar2 suatu tugas yang penuh daya kreativitas, diusahakan dengan keras dan ikhlas, disajikan cerdas dan pantas. Hal ini semua aku lakukan

karena pengalaman masa kecil ku dulu waktu masih bersekolah. Ya suatu masa dimana angan - angan banyak bermunculan. Ingin bisa ini ingin bisa itu, ingin jadi ini , ingin jadi itu. Semua itu hanya sebatas angan - angan belaka, karena rupanya bapak guru ku belum bisa melihat keinginanku yang sangat besar. secara umum hanya teman - temanku yang tinggalnya di kota yang bisa terpilih untuk mengikuti berbagai kegiatan. Jadi singkatnya masa kecil ku terisi  oleh kegiatan berangan - angan yang tinggal angan - angan. Tanpa adanya kesempatan untuk mewujudkannya. Ya maklumlah aku hanya anak dari suatu dusun yang agak jauh dari kota. Setelah besar aku baru menyadari ,mungkin Bapak dan Ibu guru tak memilih ku karena mungkin banyak pertimbangan. Setelah cita - cita menjadi guru tercapai, aku bertekad agar anak didik ku jangan sampai memiliki pengalaman pahit seperti diriku karena kurang diperhatikan keinginannya. makanya sebisa mungkin dalam kegiatan yang dilakukan di sekolah, aku berusaha untuk melibatkan banyak anak didik.  Selain alasan seperti itu tadi, aku juga ingin anak didik ku memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Nah dalam acara akhir tahun ajaran inilah, aku berusaha semampu mungkin agar anak didik ku bisa mendapatkan pengalaman yang mengesankan baginya. Dan untuk memberikan pengalaman yang mengesankan, khususnya buat  anak - anak didik ku yang tahun ini lulus,  telah banyak menyita waktuku hingga aku tak sempat untuk membuat tulisan di blog ku ini.

Senin, 21 Juni 2010

Mars Kutoarjo Memanggil.wmv



Minggu, 16 Mei 2010

BUDAYA MALU

Malu adalah suatu hal dimana kita diliputi oleh perasaan sangat tidak enak di hati yang disebabkan oleh merasa hina, rendah, tak mampu, ataupumalu4n karena ketahuan berbuat sesuatu yang kurang baik menurut norma, berbeda dengan kebiasaan, atau mempunyai cacat atau kekurangan lainnya. Malu yang disebabkan oleh hal – hal tersebut di atas, membuat seseorang mengurung diri dalam kamar,tidak berani keluar rumah, menutup diri dari pergaulan, senang menyendiri, ataupun mengasingkan diri. Pada kasus - kasus tertentu rasa malu dapat berdampak psikologis yang berkepanjangan dan fatal akibatnya seperti mengakhiri hidup. Jadi kalau mau dinilai, rasa malu itu ada yang berakibat ringan, ada pula yang berat berat. Tetapi akibat yang ada itu, akan  berbeda dampaknya pada masing – masing orang. Artinya jika suatu perbuatan yang kurang baik dilakukan oleh dua orang dan perbuatan diketahui oleh orang lain, dampaknya bagi ke dua orang tersebut akanlah berbeda. Mungkin saja buat yang satu orang akan berakibat ringan akan tetapi buat yang satunya lagi bisa berakibat berat. Dari semua rasa malu yang ada diri kita, dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan penyebab rasa malu itu sendiri seperti :

1.  Sangat tidak enak hati karena berbuat kurang baik atau berbeda dengan kebiasaan.

     Contoh dari hal ini adalah seperti  misalnya :

  • Malu karena kedapatan sedang mencuri.
  • Malu menemui tamu karena belum mandi.
  • Malu makan yang sesuai porsinya waktu bertamu, atau waktu menghadiri undangan hajatan.

2.  Segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat.

      Dalam hal ini contoh yang nyata adalah seperti :

  • Murid yang bersalah merasa malu menemui gurunya.
  • Malu menanyakan sesuatu karena yang akan ditanya adalah seorang ulama, Lurah, atau pejabat tertentu.

3.   Merasa rendah dan hina.

       Malu yang diakibat oleh karena merasa rendah atau hina biasanya dapat berdampak psikologis yang berat, seperti :    

  • Malu karena cacat yang ada pada dirinya.
  • Malu karena tertangkap melakukan suatu tindakan kejahatan atau perzinahan.
  • Malu karena menjadi korban tindakan perzinahan.

Malu yang satu ini dampaknya akan sangat berat bagi si korban. Kalau si korban tidak kuasa menanggung malu, maka bisa berakibat fatal yang akibatnya sampai bisa melakukan tindakan bunuh diri.

Malu seperti yang diungkapkan tadi adalah malu karena suatu perbuatan yang tidak baik. Akibatnya orang akan menghindarinya agar tidak terkena malu. Bagaimana jika malu karena tidak melakukan suatu perbuatan yang positif ( baik )? Tentunya hal yang demikian ini harus kita tumbuhkan pada diri kita, anak – anak kita, keluarga kita, ataupun masyarakat di sekitar kita. Malu karena tidak melakukan suatu tindakan yang baik memiliki akibat yang positif bagi diri si pelaku maupun orang – orang yang ada di sekitarnya. Jadi sebaiknya malu yang demikian ini perlu ditumbuhkan dan dipupuk keberadaannya. Agar lebih melekat pada diri seseorang perlu ditumbuhkan “ Budaya Malu “ ( khususnya malu karena tidak melakukan perbuatan yang positif ). Budaya malu yang demikian ini dapat ditumbuhkan di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, lingkungan tempat kita kerja ataupun di lingkungan masyarakat di sekitar kita.

Apa sajakah budaya malu yang bisa kita terapkan di dalam lingkungan keluarga kita? Jawabannya adalah malu kalau tidak berbuat baik di dalam lingkungan keluarga seperti contohnya yaitu :

  1. Malu kalau bangun kesiangan.
  2. Malu kalau bangun tidak merapikan tempat tidur.
  3. Malu kalau tidak membantu pekerjaan orang tua.
  4. Malu kalau sholat tidak tepat waktu.
  5. Malu kalau berbuat kasar dengan saudara.
  6. Dan masih banyak lagi yang dapat dikembangkan sesuai dengan tata cara masing – masing keluarga dalam mengasuh dan membina keluarganya tersebut.

Dari contoh – contoh seperti di atas yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan budaya malu itu dalam lingkungan keluarga kita, juga pendekatan seperti apa yang harus kita lakukan agar budaya malu tersebut dapat benar – benar tertanam dalam diri kita dan anggota keluarga kita, sehingga budaya malu tersebut mampu teraplikasikan dalam tindakan – tindakan keseharian. Hal ini tidaklah mudah, karena perlu contoh yang nyata dari diri kita sebagai orang tua, disertai kesabaran dan keikhlasan dalam menanamkannya kepada anak – anak kita. Harapan dari semua itu adalah apabila anak kita atau anggota keluarga kita memiliki budaya malu karena tidak melakukan perbuatan yang positif, ke depannya tentunya akan memiliki sifat cepat kaki ringan tangan kepada semua orang. Dan dia akan menjadi pribadi yang rajin, ulet dan cepat tanggap terhadap suatu keadaan.

Sabtu, 15 Mei 2010

Mars Kutoarjo Memanggil

Homesick adalah sesuatu yang sering timbul bila kita jauh di perantauan. Suatu perasaan di mana kita selalu terbayang akan kampung halaman. Yang biasa kita rasakan adalah suasana keindahan tentang kampung halaman kita. Mulai dari tempat main, tempat berkumpul, tempat makan, dan tempat – teman kenangan terindah pada masa pertumbuhan kita. Tanah, air, udara yang ada di dalamnya yang telah turut serta dalam membentuk fisik kita, mulai dari kita masih dalam buaian bunda tercinta hingga kita meninggalkannya, demi  kehidupan dan masa depan yang akan kita rintis. Aliran sari - sari tanah, air dan udara yang telah menyatu dalam tubuh kita itulah yang memompakan perasaan ingin selalu kembali ke tanah kelahiran di mana kita dibesarkan. Oleh karena itu bagi banyak orang, walau mereka telah sangat sukses dalam kehidupannya di perantauan, kecintaan terhadap tempat kelahirannya takkan hilang dari dalam sanubarinya.

Oleh sebagian orang, perasaan yang demikian ini hanya bisa jadi angan – angan semata. Ada berbagai hal yang menyebabkannya seperti, malu karena belum sukses di perantauan, atau juga karena memang tidak adanya biaya yang mencukupi untuk mengobati perasaan yang ada itu dengan kembali ke kampung halaman, atau biasa kita sebut dengan istilah mudik. Sebagai orang yang pergi meninggalkan kampung halaman, mudik adalah sesuatu hal yang sangat diharapkan. Tetapi untuk mencapainya perlu suatu biaya yang tentunya tidak sedikit. Biaya – biaya yang diperlukan itu tidak hanya ongkos pulang pergi semata, tetapi juga biaya untuk makan selama pulang kampung. Biasanya kalau kita pulang kampung, kita memberikan sedikit rizki yang kita peroleh selama di perantauan ( tempat tinggal kita sekarang ) untuk sanak saudara kita. Jika kita pulang ke rumah orang tua, maka selama kita di sana seluruh biaya hidup sehari – hari, kitalah yang memanggungnya. Hal ini untuk menunjukkan rasa bakti kita kepada orang tua, juga secara tersembunyi untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih baik di perantauan ( walaupun dalam kenyataannya tidak demikian ) Hal ini rasanya perlu dipersembahkan kepada orang tua, agar orang tua yang kita tinggalkan di kampung halaman itu memiliki ketenangan hidup, karena putra – putrinya telah memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika kita pulang ke kampung alanglah sangat baik jika kita membahagiakan ora ng tua kita. Jadi sebaiknya pulang kampungnya kita itu jangan sampai membebani pikiran dan perasaan orang tua kita sendiri. Dari hal tersebut maka bisa kita bayangkan, bahwa pulang Mars Kutoarjo not angka 1kampung untuk mengobati homesick kita itu memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Lagu Mars Kutoarjo Memanggil adalah sebuah lagu tentang tata kehidupan masyarakat di sebuah kota kecil di daerah Jawa Tengah tepatnya di wilayah Kabupaten Purworejo. Kutoarjo adalah sebuah wilayah kecamatan dengan 27 Desa/Kelurahan dengan luas wilayah hampir 38 km2. Lagu ini  berisi ajakan kepada masyarakat di wilayah kecamatan Kutoarjo itu sendiri, juga warga masyarakat Kutoarjo yang ada di perantauan untuk bahu membahu membangun wilayahnya. Lagu ini diciptakan oleh musisi muda berbakat dari Kutoarjo yang bernama Joko Setyoko. Lagu pengobar semangat ini diinspirasikan oleh kecintaan si pencipta lagu akan kota kecil tempat kelahirannya tersebut. Pada video yang ada di Group Paguyuban Wong Thorjo di Facebook, Lagu tersebut diaransemen dalam format Tenor, Bariton, Bass dan dibawakan oleh kelompok vokal dari PAGUYUBAN WONG THORJO.  Harapan terbesar dari pembuatan lagu  ini adalah agar dapat mempersatukan semua elemen masyarakat Kutoarjo baik yang tinggal di wilayah itu maupun yang ada di perantauan untuk bersama sama membangun Kutoarjo menjadi suatu wilayah yang sejahtera, ayem tentrem serta mandiri.

Bagi kaum perantauan asal Kutoarjo, paling tidak lagu ini dapat membangkitkan motivasi untuk bekerja keras di bidangnya masing – masing, dan mampu kembali ke kampung halaman sebagai orang yang telah memiliki kehidupan yang lebih baik serta dapat dijadikan obat pengobat kerinduan akan keindahan kota Kutoarjo bagi yang belum mampu atau belum sempat mudik. Selain daripada itu juga dapat memiliki kebanggaan tersendiri sebagai bagian dari masyarakat Kutoarjo.

Selasa, 04 Mei 2010

BERAK

Gunaksa_PasirTruk2 Rasanya muka kita akan merah padam, jika misalnya anak kita mengucapkan hal demikian saat kita sedang, makan di suatu restoran, atau sedang bertamu, atau mungkin juga saat kita sedang menghadiri pesta pernikahan. Ya… itu memang kata yang tidak enak untuk didengarkan. Suatu kata yang berkonotasi dengan hal - hal yang menjijikkan atau kotor. Oleh sebab itu rasanya tidak pantas kalau diucapkan ketika sedang bersama – sama dengan orang lain. Dalam beretika agar terdengar lebih santun, maka kata itu diganti dengan istilah BAB (Buang Air Besar). Atau mungkin juga kalau kita sedang menginginkannya, maka kita berpamitan dengan istilah izin mau ke belakang. Jadi dalam lingkup pergaulan agar kita dianggap orang yang santun, orang yang beretika, atau mengerti tata krama maka kita akan pantang mengucapkan kata itu terutama saat sedang bersama – sama dengan orang lain. Tetapi kita biasanya akan sedikit maklum jika kata itu diucapkan dalam lingkup keluarga saja. Dan tidak akan bermasalah jika anak kita yang kecil yang mengucapkan. Dan biasanya akan dengan lemah lembut ibu akan memberi nasihat kepada anaknya agar tidak mengucapkannya lagi selanjutnya si ibu akan dengan sabar mencontohkan cara mengucapkan yang baik. Kalau si anak itu termasuk anak yang cerdas maka dia akan bertanya mengapa tidak boleh mengucapkan kata itu. Biasanya diberi jawaban bahwa kata itu biasa digunakan untuk hewan, misalnya ayamnya berak di lantai.

Di sisi lain kata ini menjadi kata yang bukan berarti menjijikkan atau kotor. Bahkan banyak orang yang senang kalau ada  “ berak “. Itu artinya akan membawa rizki tersendiri bagi beberapa pihak. Kata berak ini lumrah digunakan dalam bisnis jual beli pasir. Jika berak terjadi maka ada beberapa orang yang akan mendapatkan keuntungan, di antaranya adalah :

  1. Supir dan kernet truk yang membawa pasir.
  2. Buruh aduk pasir.
  3. Pengumpul pasir di pangkalan sementara.

Untuk yang no. 2 dan 3 adalah pihak – pihak yang sangat mengharapkan dengan adanya kegiatan yang disebutkan dengan istilah berak tadi. Buruh aduk pasir adalah orang yang pekerjaannya mengaduk – aduk pasir yang ada di suatu truk yang baru datang dari tempat pengambilan atau penggalian pasir. Truk yang baru datang tersebut biasanya isi pasirnya masih sangat padat, jadi tugas para buruh aduk pasir ini adalah mengaduk pasir yang ada di bak truk agar tidak terlalu padat. Setelah diaduk, isi pasir yang ada di bak itu menjadi terlihat lebih banyak.  Tugas selanjutnya adalah menurunkan kelebihan  pasir yang sudah diaduk, untuk dijual kepada pengumpul pasir  ( inilah yang disebut dengan istilah berak ) dalam bisnis jual beli pasir. Dari pekerjaannya itu buruh aduk pasir mendapat imbalan berkisar Rp 3.000 sampai Rp 5.000 untuk satu truknya. Jika dalam sehari ada 10 truk maka dalam  seharinya  maka buruh  aduk pasir akan mendapatkan    Rp 30.000 sampai Rp 50.000 . Selanjutnya pengumpul pasir berakan   akan mengumpulkan berbagai macam pasir untuk dijual kepada  para pembeli. Pasir berakan biasanya dijual dengan harga lebih murah dari pasir yang kita beli di pangkalan resmi pasir atau atau tempat penggalian pasir. Selanjutnya dari sekali berak tersebut, sang supir dapat mengantongi antara Rp 25.000 sampai Rp 35.000 tergantung dari mutu pasir yang dibawanya.

Kalau dilihat dari sudut pandang supir, buruh aduk dan pengumpul, kegiatan berak ini sangat menguntungkan, tapi kalau dilihat dari seorang pembeli pasir ini jelas – jelas sangat merugikan. Kerugian itu karena pembeli tidak akan mendapatkan pasir dengan takaran yang sebenarnya. Jika kita membeli pasir dari tempat penggalian pasir, supaya kita sebagai pembeli tidak terlalu merasa dirugikan saat membeli pasir tersebut,  diperlukan sedikit ketelitian dalam menilai truk pasir yang membawa muatan pasir. Ada beberapa ciri dari truk pasir yang belum berak di antaranya  yaitu:

  1. Masih banyak air yang keluar dari sela – sela bak truk.
  2. Jika kita naiki pasir yang ada di bak truk, kaki kita tidak terbenam terlalu dalam.

  

Sabtu, 01 Mei 2010

MENGAJAK PUTRA – PUTRI KITA MENGIKUTI MUHASABAH DAN MOTIVASI JELANG UASBN 2010

“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan ”.

 animasi-berdoa Itulah janji Allah SWT yang mesti kita yakini. Hal ini bisa kita berikan kepada putra – putri yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yang mana mereka sebentar lagi akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional, tepatnya Hari Selasa hingga Kamis, tanggal 4 – 6 Mei 2010. Pembekalan yang demikian ini dapat memberikan motivasi tersendiri bagi putra – putri kita, dimana dalam mengikuti UASBN, mereka memiliki keyakinan mental, bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti UASBN itu sendiri.

Dengan keyakinan mental yang kuat, diharapkan mereka akan tenang dan lebih teliti dalam mengerjakan soal – soal, dan tidak dihantui bayang – bayang ketidaklulusan jika mereka tidak mampu mengerjakannya. Kepanikan saat mendapatkan soal yang sulit dikerjakan justru akan menimbulkan kebuntuan dalam mencari penyelesaian jawaban dari soal itu sendiri. Jadi intinya ketenangan mental itu sendiri sangat diperlukan dalam menghadapi suatu kegiatan yang penting seperti UASBN.

berdoa Prinsip berdoa dan berusaha sebaiknya sudah tertanamkan dalam diri putra – putri kita,  dan jika mereka sudah melakukan hal tersebut dengan sebaik – baiknya, diharapkan mereka mampu menerima hasil apapun sebagai suatu ketentuan dari yang datangnya Allah SWT. Dengan bekal yang demikian diharapkan putra – putri kita itu, nantinya tidak memiliki rasa yang berlebihan terhadap hasil atau keputusan yang diberikan kepada mereka setelah melaksanakan kegiatan UASBN ini. Harapan yang terbesarnya yaitu jika mereka lulus dengan hasil yang memuaskan, mereka tidak akan bergembira secara berlebihan, ataupun sebaliknya jika mereka mengalami kegagalan mereka tidak akan melakukan tindakan – tindakan yang tidak diharapkan, atau tindakan yang merugikan diri mereka sendiri.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah dimanakah putra – putri kita itu bisa mendapatkan kegiatan tersebut? Kegiatan Muhasabah dan pemberian Motivasi biasa dilakukan oleh sekolah – sekolah tertentu, yang memang memiliki program kerja yang terancang dengan baik. Adalah sekolah yang mampu memberikan pembekalan baik secara fisik maupun mental. Kita sebagai orang tua tentunya, sekarang ini harus dapat lebih selektif dalam menentukan tempat pendidikan untuk putra – putri kita. Untuk memilih sekolah yang demikian ini dapat kita liat dari  :

  • Visi dan Misi sekolah tersebut.
  • Sarana dan Prasarana  sekolah.
  • Program pembelajaran yang ditawarkan.
  • Kualifikasi pendidikan dari Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut.

Bagaimana jika putra – putri kita sudah terlanjur bersekolah yang belum berkriteria seperti yang diharapkan? Cara yang terbaik adalah membantu dan mendampingi mereka lebih dari yang sudah biasa kita lakukan. Dengan kedekatan yang lebih ini, Insya Allah putra – putri kita akan lebih siap lagi dalam menghadapi UASBN.

CONTOH DARI KEGIATAN MUHASABAH                DI SDSN ISLAM AL HASANAH CILEDUG,              KOTA TANGERANG

   

 

 

Jumat, 30 April 2010

UASBN DAN IMPLEMENTASINYA

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 74 Tahun 2009 Pasal 3 disebutkan bahwa Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional ( UASBN ) memiliki tujuan sebagai berikut :

  • Menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
  • Mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu.

Untuk mencapai kompetensi lulusan yang diharapkan tentunya diperlukan adanya suatu standarisasi nasional tersendiri bagi mata pelajaran – mata pelajaran yang diujikan. Dengan adanya standarisasi nasional tersebut, akan dapat diukur secara pasti tingkat keberhasilan dari penyelenggaraan pendidikan di masing – masing daerah. Selain daripada itu standarisasi sebagai alat ukur pencapaian kompetensi lulusan ini akan dapat memberikan gambaran yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk :

  • Menentukan besaran prosentase kompetensi minimal yang mampu diraih oleh peserta didik secara nasional.
  • Membuat pemetaan mutu satuan pendidikan.
  • Penentuan penyeleksian dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
  • Penentuan kelulusan bagi peserta didik dari satuan pendidikan.
  • Penentuan pemberian pembinaan dan bantuan kepada satuan pendidikan tertentu dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan.

  Dengan adanya standarisasi nasional yang diwujudkan dalam bentuk UASBN ini diharapkan dapat memotivasi para siswa, guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan untuk memacu proses pembelajaran yang ada hingga mampu mencapai ataupun melebihi dari kriteria minimal yang diharapkan.  Pada dasarnya penerapan kebijakan standarisasi nasional dalam bentuk UASBN ini lebih banyak nilai positifnya dibandingkan dengaSekolahkun nilai negatifnya. Diantara sekian banyak nilai positif dari pelaksanaan UASBN ini yang terpenting adalah akan memotivasi dalam pencapaian wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu. Pendidikan dasar yang bermutu itu dapat terwujud jika dari aspek pelaksanaan pembelajaran yang ada itu memenuhi kriteria seperti yang tertuang dalam UU Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dimana dalam UU tersebut dijelaskan mengenai standar pendidikan yang terdiri dari:

  • Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  • Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
  • Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
  • Standar Sarana dan Prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
  • Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
  • Standar Pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
  • Standar Penilaian Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

Standarisasi dari pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan harus mengacu dan memedomani ini. Jika ini dapat dilaksanakan oleh seluruh penyelenggara pendidikan maka dapat dikatakan pendidikan yang dilaksanakan itu adalah pendidikan yang bermutu. Namun demikian dalam kenyataannya pelaksanaan dari ke 8 standar nasional pendidikan ini tidak dapat dijalankan sepenuhnya di berbagai daerah. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor di antaranya yaitu :

  • Kebijakan pemerintah daerah yang berbeda, khususnya  dalam mengalokasikan angaran pendidikan.
  • Kurangnya Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
  • Belum adanya kerjasama yang baik antara satuan pendidikan dengan dunia usaha yang ada di daerah.
  • Minimnya anggaran operasional yang ada.
  • Kurangnya kemampuan dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

Dari faktor – faktor yang disebutkan itu, kiranya pemerintah harus dapat mengambil suatu kebijakan yang dapat diterima oleh berbagai pihak, agar pelaksanaan UASBN sebagai standarisasi mutu pendidikan nasional ini, dapat ujian-nasional meminimalisir kerugian yang dialami terutama oleh peserta didik. Sebagai contoh jika peserta didik tidak mampu mencapai standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan pada mata pelajaran yang diUASBNkan, tidak langsung dinyatakan tidak lulus, tetapi harus dipertimbangkan kelulusannya. Karena siswa yang memperoleh nilai belum mencukupi itu, bukan faktor dari ketidakmampuan siswa itu semata dalam menjawab soal – soal yang ada, tetapi banyak faktor lain yang berperan sehingga siswa tersebut tidak mampu mendapatkan nilai seperti yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi lulusan.

Selanjutnya standarisasi ini juga harus tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya agar dapat menjadi acuan bagi penyelenggara pendidikan dalam mencapai dan meningkatkan mutu lulusannya. Sebagai contoh jika suatu sekolah memiliki siswa yang banyak tidak mencapai standar kelulusan, maka sekolah tersebut sebaiknya diberikan penurunan nilai akreditasinya. Dengan demikian nantinya sekolah akan tetap terdorong untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang ada. Suatu sekolah yang mengalami penurunan dalam akrediatasinya, tentunya akan mendapat penilaian tersendiri dari masyarakat. Dalam langkah selanjutnya tentunya masyarakat meninggalkan sekolah yang asal berjalan saja dan akan lebih selektif dalam memilih sekolah bagi putra – putrinya. Mereka tentunya akan memilih sekolah – sekolah yang telah melaksanakan standar pendidikan secara maksimal dalam penyelenggaraan pendidikannya. Dengan pelaksanaan standar pendidikan secara maksimal ini, maka bagi sekolah yang melaksanakannya akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas ( memenuhi standar kompetensi lulusan ).

Rabu, 28 April 2010

Selamat Jalan Kawanku

“ Pantesan macem - - macem chordnya, Kang Purwa dari Ciledug yang main, kirain siapa tadi”. Ngomong – ngomong Pak Wito kursus di mana” lanjutnya. “ Ah nggak kok saya cuma ngrasain melodinya aja, terus kayaknya chord miringnya tuh lebih enak kalau begini”. Tapi Pak Wito mainnya asyik banget” imbuhnya,  “Ah biasa aja kok, masih lebih Asyik Pak  Haji, lagu dangdut mlintir kaya apa aja pasti bisa mainnya” jawabku. Dia tersenyum sambil berkata, “ Wah bisa aja nih Pak Wito”

Itulah sepenggal pembicaraan yang kami lakukan waktu Hari Kamis, 22 April 2010, disaat pelaksanaan Lomba Paduan Suara dalam rangka Peringatan Hari Kartini di Gedung Nyi Mas Melati.dengan dilanjutkan banyak sekali lainnya, pembicaraan yang hangat setiap kali kita  bertemu dengannya, Kami selalu berdiskusi H. Kahlan n metentang  seputar penyelenggaraan lomba, materi lomba yang sekarang diikuti, kegiatan – kegiatan di sekolah, dan masih banyak lagi lainnya. Hari itu dia begitu mengagumi keyboard yang aku bawa, banyak hal yang dia tanyakan tentang keyboardku itu dari jenis stylenya hingga kualitas bunyi. Dia mengamati dengan seksama detil – detil keyboardku itu, terus mencobanya sebentar. semua itu kita lakukan di sela – sela menunggu giliran tampil ke panggung perlombaan.

Yah begitulah kami jika bertemu selalu dalam berbagai macam kegiatan perlombaan di bidang seni musik, entah itu Lomba Seni dan Kreativitas Siswa, Lomba Vokal Solo, Lomba Paduan Suara dan Lomba Bidang Studi. Kami berdua memang berprofesi sebagai guru musik di dua sekolah yang berbeda dengan wilayah yang berbeda pula. Jadi jika bertemu selalu bersaing untuk menunjukkan kelebihan dari bakat siswa kami masing – masing.

Hari Selasa, 27 April 2010 adalah hari dimana diadakan pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Sekolah Dasar untuk seleksi Tingkat Kota.  Sesampai di tempat lomba aku mencari dia, ternyata dia tak kunjung terlihat, sampai akhirnya acara pembukaan pun dimulai. Pembawa acara mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin dan juga pejabat tingkat kota yang berkenan hadir. Selanjutnya dia mengumumkan berita duka cita bahwa telah berpulang ke Rahmatullah seorang Pahlawan pendidikan, dia menyebutkan nama Bapak H. Kahlan dari Kec. Cipondoh.

Aku merasa tidak mempercayai pendengaranku sendiri, aku tak mampu mengucapkan kata – kata, dan hanya tertunduk lemas…  dia yang beberapa hari yang lalu terlihat, segar bugar, cerah ceria, muda dan bersemangat,ternyata takdir menentukan lain untuk jalan hidupnya. dalam keterdiaman itu tak terasa air mataku mengalir, dan aliran air mata ini makin deras setelah pembawa acara mengajak para hadirin untuk mengirimkan Fatihah untuknya.

Aku banyak diam selama kegiatan itu, dan dari berita yang disampaikan oleh rekan yang satu kecamatan dengannya, dia meninggal karena darah tinggi dan stroke. Masih lekat dalam bayangan, dia adalah sosok yang supel dengan senyum yang ramah, dan perkataannya yang santun. Kini dia telah tiada, untuk menemui Sang Khaliq. Selamat jalan teman, semoga semua amal bakti dan ibadahmu diterima oleh Allah SWT, diampuni segala dosa-dosamu, dan dilapangkan serta diterangkan alam kuburmu. Hanya doa yang dapat kuberikan untukmu, semoga Allah mengabulkannya. Amin…

Senin, 26 April 2010

Kasir

Sore itu aku mengunjungi sebuah mall yang cukup besar, yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sebenar370251169_b5eae75c87nya agak malas juga mau kesana, tapi mengingat laptop sudah mulai ngaco kerjanya, ya mau gak mau akhirnya jalan juga. Melihatku memakai jaket yang biasa kupakai jalan, langsung saja istriku ikut. Katanya ingin beli sepatu untuk senam. Aku pun mengiyakan. Dan tak berapa lama sampailah di counter perlengkapan computer yang ada di lantai tiga dari mall itu. Sementara itu istriku langsung masuk ke departement store yang ada di mall itu. Memang counter ini sudah lama menjadi langgananku untuk keperluan akan computer dan laptop yang kumiliki. Seperti biasa pemilik counter itu ramah sekali melayaninya, dengan senyum yang cukup lebar dia menanyakan apa yang bisa dia bantu. Dan setelah perbaikan kecil dari program yang ada, akhirnya aku mengeluarkan kocek sebesar Rp 25.000,00 sebagai imbalan atas jasa perbaikan. Dan dengan senyum yang makin lebar si pemilik counter menerima uang tersebut disertai sorot mata yang menggambarkan rasa terimakasih yang tak terhingga. Mendapat pelayanan yang seperti itu, aku merasa menjadi seseorang yang lebih, klo boleh meminjam istilah dalam bahasa jawa yaitu “diuwongke” . Nah sore itu aku benar – benar merasakannya dengan pelayanan yang diberikan oleh pemilik counter itu. Memang tidak salah aku memilih counter itu buat dijadikan langganan.

Dan dengan perasaan puas yang mendalam aku keluar dari counter itu menyusul istriku yang ada di departemen store. Sesampainya di sana dia belum juga mendapatkan sepatu yang diinginkanya, dari berbagai merek dan harga dia coba berganti – ganti. Sepertinya dia memiliki energi yang lebih untuk jalan mundar – mandir, jongkok berdiri mencoba berbagai merek sepatu. Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya didapatkan juga yang cocok dengan pilihannya. Karena hari itu sedang ada discount, dia beli juga dua pasang sepatu lagi untuk santai. Memang wanita sepertinya mudah tergiur dengan discount.

Akhirnya tiba saat pembayaran di kasir, lumayan juga harus agak antri. Dengan cekatan sang kasir dengan rekan kerjanya yang satu lagi melayani pembeli. Dia ucapkan selamat datang, menanyakan memiliki member atau tidak, dilanjutkan dengan pertanyaan mau dibayar chas atau tidak, lalu mempersilahkan memutar jam pasir untuk menilai tentang kecepatnya melayani pembeli. Setelah menerima pembayaran seharga hampir lima ratus ribu rupiah, dia mengucapkan terimakasih, dilanjutkan dengan mengucapkan ya….yang selanjutnya.

Ada hal yang sangat mengusik di hati atas pelayanan yang diberikan oleh kasir sebuah departement store yang cukup besar itu. Memang dia melayani dengan cukup cekatan, hanya aku merasakan seperti dilayani oleh sebuah robot. Aku katakan demikian karena ada beberapa alasan yang aku liat dari kasir tersebut seperti misalnya :

1. Waktu dia mengucapkan selamat datang, dilakukannya tanpa menatap wajah pembeli, dan ucapan yang diberikan itu dilakukan sambil melakukan hal – hal yang lain. Aku menilai ucapan yang diberikan itu sepertinya hanya sekedar ucapan kewajiban yang harus ia lakukan. Atau dengan kata lain itulah instruksi yang harus dia lakukan kalau melayani pembeli. Alangkah baiknya bila ucapan yang diberikan itu didasari oleh hubungan saling membutuhkan antara pembeli dan penjual, ( dalam hal ini diwakili oleh kasir dari departement store tersebut ) sehingga ucapan yang diberikan akan lebih bermakna.

2. Selanjutnya pertanyaan memiliki member atau tidak, membayar chas atau pakai kartu semua dilakukan dengan lebih banyak menatap ke layar monitor mesin pembayaran. Cara pelayanannya seperti diuber – uber sesuatu agar cepat selesai. Atau dengan kata lain dia takut dengan jam pasir yang dia persilakan untuk diputar, akan habis akan habis lebih dahulu, sementara dia belum selesai melayani.

3. Yang terakhir, ucapan terimakasihnya dilakukan sambil lalu saja. Dan ucapan terima kasih yang diberikan itu juga tidak memiliki makna ( rasa gembira karena mendapat untung, dan dari untung yang didapat itu dia mendapatkan gaji.)

Dari dua kejadian sore itu ada pelajaran menarik yang bisa aku ambil, yaitu bahwa walau cepat, aku tidak mendapatkan pelayanan yang menempatkan pembeli adalah raja, atau kalau istilah itu terlalu tinggi, ya seperti tadi “diuwongke” . Seperti di counter perlengkapan komputer hanya dengan membayar Rp 25.000,00 aku telah mendapatkan pelayanan yang seharusnya didapat oleh seorang pembeli, tetapi dengan membayar 20 kali lipat aku tidak mendapatkannya di departement store tersebut. Menurutku akan lebih berarti kalau pelayanan yang dilakukan, didasari dengan hati seperti yang dilakukan si pemilik counter, bukan karena aturan atau keharusan. Dengan demikian maka setiap pembeli yang datang merasa jadi raja ( memiliki kepuasan yang mendalam ). Jika hal itu sudah dia dapatkan, maka si pembeli itu akan menjadi pelanggan yang setia. Sebagai pelanggan yang setia, tentunya dia tidak akan segan bercerita kepada saudara, tetangga, dan teman – temannya tentang tempat langganannya tersebut.

Kartinian

IMG_2510 Gadis itu menangis dengan tersedu – sedu, dan air matanya membasahi pipinya. Dengan penuh  kesabaran  bundanya terus membujuknya agar dapat tenang dan tidak menangis lagi. Sementara itu teman – temannya mengelilinginya dan berharap ia bisa ikut bersama. Rupanya keinginan itu sulit terwujud, karena sang gadis cilik itu makin tidak mau. Ia tidak mempedulikan lagi penampilannya. Make upnya sudah basah oleh air mata. Bajunya yang agak kebesaran sudah tak serapi seperti waktu datang tadi. Itu semua karena rasa takutnya untuk tampil ke atas panggung, dan ia pun terus memeluk ibunya.

Sementara di atas panggung yang dibuat sangat sederhana, dengan berbagai gaya teman – teman dari Sang Gadis tadi IMG_2540 menunjukkan aksinya untuk dapat merebut hati para juri agar memilihnya sebagai Gadis Kartini tahun ini. Gaya yang mereka tampilkan masih tampak polos, berjalan dengan agak tergesa – gesa, berhenti sebentar lalu membungkuk ke arah dewan juri sebagai tanda hormat, setelahnya berjalan lebih cepat lagi untuk segera turun ke panggung. Karena ingin buru – buru cepat turun panggung itulah ada beberapa diantaranya yang terjatuh. Dan dengan penuh kebanggaan bunda – bunda mereka menunggunya di pinggir panggung tempat mereka turun. Tak kalah sigap para ayah sibuk mengabadikan peristiwa itu dengan antusias.   Banyak kejadian – kejadian lucu yang terjadi di atas panggung.  Dari sepatu yang terlepas karena kebesaran, sampai tumpahnya bunga yang seharusnya disebarkan saat peserta itu lewat. Pemandangan itu membuat suasana menjadi lebih riuh. Hal itu terjadi silih berganti hingga semua peserta mendapatkan gilirannya. terakhir dari kegiatan peringatan itu adalah sesi pemotretan bagi yang berminat oleh fotografer yang telah dipesan oleh panitia sebelumnya. Walau kegiatan ini tidak dipaksakan, tetapi peminatnya cukup banyak.

Itulah pemandangan umum yang kita liat setiap diadakan perayaan Hari Kartini. Dengan sedikit pidato yang isinya tentang bagaimana Kartini menolak kungkungan budaya keraton, agar dapat tetap bisa belajar, dan membuat sekolah di lingkungan keraton. Ditambahkan juga dengan himbauan agar kaum wanita bisa lebih maju sejajar dengan kaum pria. Sebuah pidato yang sangat singkat tanpa penekanan secara mendalam hikmah apa yang sebaiknya diambil dari Peringatan Hari Kartini itu sendiri.

                                               Sebagai gadis yang berpandangan kartini_11maju pada zamannya, Kartini sangat menginginkan peningkatan derajat bagi kaumnya setingkat dengan derajat kaum pria, terutama dalam dalam hal memperoleh pendidikan. Kartini juga  adalah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan masyarakatnya yang jauh dari kehidupan yang layak. Ketertindasan, kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan  itulah hal – hal yang banyak ia ceritakan melalui surat – surat yang dikirimkan  kepada teman – temannya yang kebanyakan adalah orang Belanda. Selain hal itu, ia juga banyak menulis tentang harapan dan cita – cita sebagai perempuan Bumiputera ( Panggilan Belanda pada Bangsa Indonesia ) dan gambaran tentang harapannya itu seperti tertulis di salah satu suratnya yaitu

Daripada mati itu, akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan – tahan. Dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besok akan tumbuh juga dia. Dan hidup makin lama makin kuat makin tegak.

Kita semua mengetahui Kartini sebagai Pejuang Emansipasi Wanita, berkat kerajinannya menuliskan pandangannya tentang kehidupan  masyarakatnya, harapan, dan cita – citanya dalam sebuah surat. Seandainya peringatan kali ini diisi dengan semangat menulis sesuatu, mungkin akan lebih banyak yang kita tahu tentang harapan dan cita-cita anak – anak bangsa, daripada hanya sekedar melihatnya berlenggak – lenggok di atas panggung dengan memakai pakaian daerah. Atau dengan kata lain akan lebih bermakna peringatan itu jika diisi dengan mengasah dan menggali sesuatu yang tujuannya mencerdaskan anak bangsa seperti yang dicita-citakan Kartini, daripada hanya menampilkan kecantikan dan keluwesan semata.

 

Minggu, 25 April 2010

Ya Allah Ampuni Hamba Mu Ini

Aku seperti tersambar petir mendengarnya, keringatku mengucur menganak sungai, dan itu terasa sungguh tak wajar, di daerah perbukitan yang begitu dingin  di tengah malam yang menusuk tulang, keringatku mengucur dengan derasnya. Bayangan kengerian terhampar jelas dalam benakku. Dan kekesalan yang memuncak kepada kakakku berubah menjadi penyesalan yang mendalam. Dan juga terbesit sangkaan yang tak baik kepada Mu ya Allah, menjadi suatu ucapan syukur yang tak terhingga atas musibah itu. Sungguh suatu kejadian yang tak akan mungkin pernah diinginkan oleh semua orang yang di muka bumi ini bila hal itu benar – benar terjadi. Aku terpana mendapati kenyataan seperti itu. Karena aku hanya terdiam, tukang bengkel yang baik hati itu pun menegaskan kembali kepadaku “ Bener pak, kalau as mobil ini tidak pecah, bapak sekeluarga tidak akan selamat  meneruskan perjalanan bapak ini” Aku hanya menjawab dengan terbata – bata “ iya mas, terima kasih sebelumnya…” Lalu tukang bengkel (montir) itu menunjukkan sebuah wadah seperti botol yang terbuat dari plastik, yang letaknya di samping kanan belakang pada bagian mesin mobil Kijang yang kami sewa. Botol itu benar – benar kosong. “ Ini tempatnya minyak rem Pak” katanya “kalau bapak meneruskan perjalanan, tidak sampai 2 km mobil ini pasti remnya blong, padahal di depan tuh jalanya sangat berliku dan banyak jurangnya Pak” lanjut tukang bengkel itu lamudikgi.

Aku baru menyadari apa dibalik kejadian kerusakan yang terjadi pada mobil yang kami sewa. Rupanya Allah menyelamatkan aku dan keluargaku dengan musibah kerusakan pada ban mobil sewaan kami.  Aku yang tadinya agak menggerutu dengan kejadian itu, akhirnya sangat merasa bersyukur dengan musibah itu. Sebenarnya sudah banyak hal yang kurang beres pada mobil itu sebelum keberangkatan kami sekeluarga ke daerah Juana di Jawa Tengah. Waktu kami ambil dari rumah kakak di Pasar Minggu mobil itu berbunyi cukup halus. Aku bertanya kepada kakakku tentang kondisi mobil yang disewa itu. Dengan ringan kakakku menjawab bahwa mobil itu cukup bagus, sudah dicek semua kondisinya oleh pemiliknya yang juga berprofesi sebagai pemilik bengkel mobil. Walau umur mobil itu keluaran tahun 95 dengan latar belakang pemiliknya aku yakin sekali dengan kondisinya.  Ketika mau jalan dan mesin aku bunyikan terdengar suara seperti tembakan pada knalpotnya, wah kenapa lagi dengan mobil ini,  lalu seorang tetangga memberi tahu kalau knalpotnya bocor, tapi itu tidak apa – apa kalau dipergunakan untuk perjalanan jauh, hanya bunyinya saja yang lebih berisik. Dan ketika baru berjalan sekitar 100 meter, ternyata alat pemutar kaca pintu tidak ada pada tempatnya.  Aku terpaksa berhenti dan balik lagi ke rumah apa tadi copot waktu kami membuka pintu mobil itu. Ternyata benar dan alat pemutar itu dapat ditemukan lagi.

Semua itu adalah sebagian kecil gangguan. Yang kenyataannya masih banyak  gangguan – gangguan lainnya yang terjadi selama dalam perjalanan pulang kampung dan selama di kampung  istriku. Aku mau pulang kampung kali ini dengan menyewa mobil karena permintaan anak2 dan istriku yang menginginkan agar bisa banyak jalan2 selama di kampung halaman. Aku pikir tidak salahnya membahagiakan keluargaku. Atas dasar ingin membahagiakan keluargaku itulah aku mantapkan diri untuk pulang kamu dengan menyewa mobil. Aku membawa sendiri mobil itu, walau kakiku belum pulih 100% setelah operasi pasang pen 7 bulan yang lalu. Perjalanan ke kampung lewat jalur pantura yang memakan waktu selama hampir 33 jam karena kemacetan yang luar biasa selama dalam perjalanan,. yang normalnya hanya 10 – 11 jam. Ini benar – benar perjalanan yang berat. Alhamdulillah walau banyak gangguan karena mobil itu sendiri, kita bisa sampai di kampung halaman dengan selamat.

Setelah seminggu di kampung istri kami kembali lagi ke Tangerang, karena ingin berwisata, kami memilih jalur selatan untuk kepulangannya. Anak – anakku ingin melihat Candi Borobudur dan tempat wisata pantai dan juga Gua Jatijajar di daerah Gombong dan aku sendiri ingin mampir di rumah sahabatku di daerah Kutoarjo. Perjalanan menuju Candi Borobudur cukup lancar, walau untuk masuk ke areal Candi Borobudur sangat susah sekali karena padatnya wisatawan. Mobil mulai mengalami gangguan yang lebih serius  ketika aku menuju daerah Purworejo.  Perjalanan menuju Purworejo memang  sudah cukup malam setelah sebelumnya berkeliling – keliling di daerah Magelang. Ban mobil kanan depan berbunyi kletek – kletek, awalnya tidak begitu keras, tapi lama kelamaan bunyinya makin mengganggu. Dan sangat berasa sekali setelah tiba di Daerah Salaman seperti bunyi sesuatu yang rontok. waktu itu jam menunjukkan hampir jam setengah 11 malam.  Di daerah yang cukup sunyi itu tidak ada bengkel lagi. Aku mampir ke Polsek Salaman untuk meminta bantuan. dari seorang Polisi jaga itulah dipanggil seorang montir yang ada di daerah itu. Sang Montir mangajak kami sekeluarga untuk menginap di rumahnya sambil membetulkan kerusakan yang terjadi. Untuk ke rumahnya harus  masuk daerah sedikit berbukit, sekitar 1 km dari Polsek Salaman. Dia memiliki bengkel di depan rumahnya yang ternyata sangat jauh dari jalan besar. Aku heran kenapa kok Dia buka bengkel di tempat yang jauh dari jalan besar. Rupanya dia memang memiliki suatu keyakinan yang kuat, kalau Allah itu Maha Adil pada umatnya, dan rizki itu tidak akan ke mana, walau bengkelnya jauh dari jalan ada saja orang yang meminta tolong untuk memperbaiki kendaraannya. Dia juga sepertinya sangat pandai tentang segala macam mobil.

Karena waktu memang sudah cukup larut malam maka pekerjaan perbaikan itu dihentikan dan malam itu kami semua menginap di rumahnya montir mobil itu. ketika bangun pagi sekitar pukul 04:30 ternyata montir itu sedang sibuk memperbaiki mobil sewaan kami. dia juga memperbaiki banyak hal lain dari tape mobil ,viper, klakson dan lain – lainnya. sekitar jam 09:00 siang semua perbaikan selesai dan kami pun melanjutkan perjalanan. Ucapan terimakasih yang terhingga kepada Mas Montir yang sangat pandai dan baik hati itu kami haturkan sebelum keberangkatan kami. Dan alangkah buruknya kami karena sampai saat ini kami lupa akan nama Sang montir yang baik hati itu.

Dari kejadian itu ada suatu hikmah tersendiri yang aku ambil, ternyata kita kadang ( aku sendiri ) sering mengerutu dan mengeluh atas cobaan kecil yang diberikan Allah kepada kita. Padahal dibalik musibah atau kejadian  kecil itu ada suatu pertolongan besar dari Allah untuk kita.

Ya Allah… ampuni hambamu yang banyak dosa ini………

Sabtu, 24 April 2010

SUPIR ANGKOT

Motor kujalankan tidak terlalu kencang, sekitar 30 km/jam dan dengan kecepatan yang seperti itu aku berjalan agak kepinggir. Rasanya ini cara berkendaraan yang cukup aman untuk tingkat keamanan berkendara di daerah pinggiran Jakarta. Dan dengan tetap kewaspadaan yang cukup tinggi aku mengontrol laju motor yang kubeli dengan cara kredit itu. Berjalan seperti itu lebih terasa nikmat lagi karena di belakangku memeluk dengan mesra istri tercinta. Dan sangat terasa hari itu benar – benar hari yang indah. Apalagi perjalananku itu adalah perjalanan pulang, setelah menerima rapelan gaji. Terasa makin lengkaplah keindahan hari itu. Badan terasa ringan sekali, nafas lebih plong walau udara agak berdebu, aliran darah terasa lancar dan jantung berdegub dengan lembut dan teratur. Terbayang nanti sore nongkrong di tenda, sambil makan seafood kesukaan keluargaku.

Rupanya bayangan kenikmatan itu tidak diizinkan untuk berlama – lama, karena tiba –tiba sebuah mobil angkot memotong jalanku. Untung stang motor masih sempat kubelokkan ke arah kiri sehingga terhindar dari benturan yang fatal. Dan untuk menghindari agar angkot5tak menabrak trotoar kulakukan pengereman yang mendadak. Alhamdulillah di belakangku tak ada kendaraan, sehingga tak terjadi tabrak belakang. Ketika berhenti mendadak itu aku liat supir angkot buru – buru menaikan penumpang dan langsung tancap gas. Aku merasa keindahan hari itu sangat terusik oleh ulah supir angkot yang ugal –ugalan. Karena perbuatan yang seenaknya itu, aku merasa tidak terima diperlakukan seperti itu, tanpa pikir panjang lagi kukebut motorku dan kukejar sopir angkot itu. Kusejajarkan laju motorku dengan angkot itu tepat di sebelah sang sopir. Mungkin karena bersalah dan kukejar, akhirnya sopir itu menghentikan juga laju angkotnya, dan akupun berhenti tepat di samping pintu depan dekat supir. Dengan menahan kekesalan kutegur  supir itu agar tidak seenaknya saja membawa kendaraan. Dan dengan wajah yang dibuat seolah – olah bersalah walau memang sebenarnya sangat bersalah dia mengatakan minta maaf karena sedang mengejar setoran. Sebenarnya hati sangat panas mendengar ucapannya, tapi aku tidak mau berlama – lama debat kusir tentang benar salah dengan supir angkot itu. Dan itu hanya akan membuang – buang waktu saja. Aku lanjutkan perjalanku yang sudah  terkontaminasi dengan kejadian itu.

Sesampai di rumah aku berpikir kenapa secara umum supir angkutan yang ada itu kurang dalam hal kedisiplinan di jalan. Seperti kejadian tadi. hanya gara – gara ingin mendapatkan uang setoran keselamatan orang lain diabaikan. Dan hal itu hanya kejadian kecil yang  sangat mungkin terjadi tiap waktu. Seperti kejadian di Jakarta Pusat beberapa tahun yang lalu, dimana 2 metromini saling kebut-kebutan hanya untuk rebutan penumpang yang akhirnya salah satu metromini tercebur ke kali dan menewaskan sebagian besar penumpangnya, dan juga berapa banyak pengendara lain terserempet, tertabrak, menabrak karena angkot yang berhenti  mendadak.

Timbul pertanyaan apa yang harus dibenahi agar kejadian yang seperti ini tidak terulang kembali. Menurutku harus ada pembenahan dari berbagai aspek, agar profesi supir angkot itu tidak hanya sekedar mampu menjalankan kendaraan saja seperti :

  • Perekrutan tenaga supir dengan kulifikasi pendidikan dasar tertentu. Misalnya Pendidikan serendah – rendahnya SLTP.
  • Pengetatan pemberian SIM.
  • Harus memiliki serifikat uji kelayakan sebagai supir kendaraan angkuatan umum. ( walau sudah ada SIM )
  • Memiliki surat keterangan sehat dan bebas dari pengaruh obat – obatan terlarang dan minuman keras.
  • Adanya ketentuan upah minimum bagi para supir. ( untuk menghindarkan adanya nguber setoran )
  • Pemberian bonus dan tunjangan wajib oleh para pengusaha angkutan kepada supir armadanya masing – masing.
  • Pemberian sangsi yang ketat mulai dari pencabutan sertifikat hingga SIM, bagi supir yang yang tidak disiplin di jalan.

Hal yang diketengahkan di atas adalah mengenai hak dan kewajiban para supir angkutan agar dapat bekerja dengan memperhatikan keselamatan kerja bagi semuanya, baik  supir itu sendiri  maupun pengguna jalan yang lain. Demikian, semoga dapat bermanfaat bagi yang berkaitan dengan masalah ini…

Rabu, 21 April 2010

Irama Desa


Irama Desa

Kenanganku melayang setelah mengajarkan lagu ini. Lagu yang memberikan gambaran tentang sebuah dusun atau desa yang berada dibalik sebuah gunung. Lagu ini sungguh menyentuh, dengan syair sederhana tapi bermakna dalam. Tersusun indah syairnya yang menggambarkan sebuah kesunyian, keheningan, ketenangan, ketentraman yang dilingkupi oleh kedamaian. Sebagai orang yang pernah merasakan tinggal di suatu desa yang jauh dari hingar bingarnya keramaian kota, tentunya lagu ini banyak menggugah kenangan – kenangan indah waktu tinggal di desa. Seperti merasakan hembusan angin sawah, menikmati aroma tanah kering yang tersiram air hujan, mendengar gemericik aliran air, menggembalakan kerbau di sawah, mencari anak – anak burung, mencari jangkrik, bermain layang – layang, bermain serunai, memanen padi, mencari ikan dan masih banyak lagi lainnya. Kesunyiaan, ketenangan dan kedamaian itulah yang sekarang ini menjadi dambaan setiap kaum perantauan yang tinggal di kota – kota besar. Dimana mereka setiap saat harus berjuang keras untuk dapat bertahan hidup, memperjuangkan ekonomi keluarga agar tetap dapat mencukupi kebutuhan seluruh keluarga.

Saya sangat menikmati lagu ini ketika dinyanyikan anak – anak. Sebelum mengajarkannya saya bercerita sedikit kepada anak – anak tentang bagaimana desa dengan segala yang ada di dalamnya. Saya berharap mereka memiliki fantasi keindahan tentang desa dan akhirnya mampu menyanyikan lagu ini dengan ekspresi yang sesuai. Selain berharap mereka memiliki fantasi tentang keindahan desa, saya ingin menanamkan rasa kecintaan terhadap alam negrinya sendiri yaitu Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan yang ada saat ini, saya sangat prihatin, karena anak – anak sekarang ini sangat miskin dengan lagunya sendiri. Mereka tidak memiliki lagu yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Industri musik yang ada sekarang ini, lebih banyak mengarah kepada penciptaan lagu – lagu untuk remaja dan dewasa. Karena kemiskinan lagu tersebut akhirnya anak- anak itu lebih banyak menyanyikan lagu – lagu yang memang belum pas untuk mereka nyanyikan. Anak – anak lebih mengenal group – group band seperti Peterpan, Ungu, Wali, Changcuters, Gigi dan lain – lainnya, daripada pencipta lagu anak – anak seperti, Ibu Sud, AT. Mahmud, Pak Dal dan Ibu – Pak Kasur.

Lagu anak – anak yang sekarang ini seperti berhenti, ada bebarapa yang muncul tapi masih sangat jauh dari harapan. Sepertinya para pencipta lagu takut tidak laku lagunya kalau menciptakan lagu untuk anak – anak. Karena group – group band yang sekarang ini sudah terlanjur dikenal dan digandrungi oleh anak – anak, ada baiknya jika mereka menciptakan satu atau dua buah lagu dalam setiap mengeluarkan albumnya, jika hal ini dilaksanakan saya yakin anak – anak tidak akan miskin lagi dengan lagunya. Semoga……