Laman

Minggu, 16 Mei 2010

BUDAYA MALU

Malu adalah suatu hal dimana kita diliputi oleh perasaan sangat tidak enak di hati yang disebabkan oleh merasa hina, rendah, tak mampu, ataupumalu4n karena ketahuan berbuat sesuatu yang kurang baik menurut norma, berbeda dengan kebiasaan, atau mempunyai cacat atau kekurangan lainnya. Malu yang disebabkan oleh hal – hal tersebut di atas, membuat seseorang mengurung diri dalam kamar,tidak berani keluar rumah, menutup diri dari pergaulan, senang menyendiri, ataupun mengasingkan diri. Pada kasus - kasus tertentu rasa malu dapat berdampak psikologis yang berkepanjangan dan fatal akibatnya seperti mengakhiri hidup. Jadi kalau mau dinilai, rasa malu itu ada yang berakibat ringan, ada pula yang berat berat. Tetapi akibat yang ada itu, akan  berbeda dampaknya pada masing – masing orang. Artinya jika suatu perbuatan yang kurang baik dilakukan oleh dua orang dan perbuatan diketahui oleh orang lain, dampaknya bagi ke dua orang tersebut akanlah berbeda. Mungkin saja buat yang satu orang akan berakibat ringan akan tetapi buat yang satunya lagi bisa berakibat berat. Dari semua rasa malu yang ada diri kita, dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan penyebab rasa malu itu sendiri seperti :

1.  Sangat tidak enak hati karena berbuat kurang baik atau berbeda dengan kebiasaan.

     Contoh dari hal ini adalah seperti  misalnya :

  • Malu karena kedapatan sedang mencuri.
  • Malu menemui tamu karena belum mandi.
  • Malu makan yang sesuai porsinya waktu bertamu, atau waktu menghadiri undangan hajatan.

2.  Segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat.

      Dalam hal ini contoh yang nyata adalah seperti :

  • Murid yang bersalah merasa malu menemui gurunya.
  • Malu menanyakan sesuatu karena yang akan ditanya adalah seorang ulama, Lurah, atau pejabat tertentu.

3.   Merasa rendah dan hina.

       Malu yang diakibat oleh karena merasa rendah atau hina biasanya dapat berdampak psikologis yang berat, seperti :    

  • Malu karena cacat yang ada pada dirinya.
  • Malu karena tertangkap melakukan suatu tindakan kejahatan atau perzinahan.
  • Malu karena menjadi korban tindakan perzinahan.

Malu yang satu ini dampaknya akan sangat berat bagi si korban. Kalau si korban tidak kuasa menanggung malu, maka bisa berakibat fatal yang akibatnya sampai bisa melakukan tindakan bunuh diri.

Malu seperti yang diungkapkan tadi adalah malu karena suatu perbuatan yang tidak baik. Akibatnya orang akan menghindarinya agar tidak terkena malu. Bagaimana jika malu karena tidak melakukan suatu perbuatan yang positif ( baik )? Tentunya hal yang demikian ini harus kita tumbuhkan pada diri kita, anak – anak kita, keluarga kita, ataupun masyarakat di sekitar kita. Malu karena tidak melakukan suatu tindakan yang baik memiliki akibat yang positif bagi diri si pelaku maupun orang – orang yang ada di sekitarnya. Jadi sebaiknya malu yang demikian ini perlu ditumbuhkan dan dipupuk keberadaannya. Agar lebih melekat pada diri seseorang perlu ditumbuhkan “ Budaya Malu “ ( khususnya malu karena tidak melakukan perbuatan yang positif ). Budaya malu yang demikian ini dapat ditumbuhkan di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, lingkungan tempat kita kerja ataupun di lingkungan masyarakat di sekitar kita.

Apa sajakah budaya malu yang bisa kita terapkan di dalam lingkungan keluarga kita? Jawabannya adalah malu kalau tidak berbuat baik di dalam lingkungan keluarga seperti contohnya yaitu :

  1. Malu kalau bangun kesiangan.
  2. Malu kalau bangun tidak merapikan tempat tidur.
  3. Malu kalau tidak membantu pekerjaan orang tua.
  4. Malu kalau sholat tidak tepat waktu.
  5. Malu kalau berbuat kasar dengan saudara.
  6. Dan masih banyak lagi yang dapat dikembangkan sesuai dengan tata cara masing – masing keluarga dalam mengasuh dan membina keluarganya tersebut.

Dari contoh – contoh seperti di atas yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan budaya malu itu dalam lingkungan keluarga kita, juga pendekatan seperti apa yang harus kita lakukan agar budaya malu tersebut dapat benar – benar tertanam dalam diri kita dan anggota keluarga kita, sehingga budaya malu tersebut mampu teraplikasikan dalam tindakan – tindakan keseharian. Hal ini tidaklah mudah, karena perlu contoh yang nyata dari diri kita sebagai orang tua, disertai kesabaran dan keikhlasan dalam menanamkannya kepada anak – anak kita. Harapan dari semua itu adalah apabila anak kita atau anggota keluarga kita memiliki budaya malu karena tidak melakukan perbuatan yang positif, ke depannya tentunya akan memiliki sifat cepat kaki ringan tangan kepada semua orang. Dan dia akan menjadi pribadi yang rajin, ulet dan cepat tanggap terhadap suatu keadaan.

Sabtu, 15 Mei 2010

Mars Kutoarjo Memanggil

Homesick adalah sesuatu yang sering timbul bila kita jauh di perantauan. Suatu perasaan di mana kita selalu terbayang akan kampung halaman. Yang biasa kita rasakan adalah suasana keindahan tentang kampung halaman kita. Mulai dari tempat main, tempat berkumpul, tempat makan, dan tempat – teman kenangan terindah pada masa pertumbuhan kita. Tanah, air, udara yang ada di dalamnya yang telah turut serta dalam membentuk fisik kita, mulai dari kita masih dalam buaian bunda tercinta hingga kita meninggalkannya, demi  kehidupan dan masa depan yang akan kita rintis. Aliran sari - sari tanah, air dan udara yang telah menyatu dalam tubuh kita itulah yang memompakan perasaan ingin selalu kembali ke tanah kelahiran di mana kita dibesarkan. Oleh karena itu bagi banyak orang, walau mereka telah sangat sukses dalam kehidupannya di perantauan, kecintaan terhadap tempat kelahirannya takkan hilang dari dalam sanubarinya.

Oleh sebagian orang, perasaan yang demikian ini hanya bisa jadi angan – angan semata. Ada berbagai hal yang menyebabkannya seperti, malu karena belum sukses di perantauan, atau juga karena memang tidak adanya biaya yang mencukupi untuk mengobati perasaan yang ada itu dengan kembali ke kampung halaman, atau biasa kita sebut dengan istilah mudik. Sebagai orang yang pergi meninggalkan kampung halaman, mudik adalah sesuatu hal yang sangat diharapkan. Tetapi untuk mencapainya perlu suatu biaya yang tentunya tidak sedikit. Biaya – biaya yang diperlukan itu tidak hanya ongkos pulang pergi semata, tetapi juga biaya untuk makan selama pulang kampung. Biasanya kalau kita pulang kampung, kita memberikan sedikit rizki yang kita peroleh selama di perantauan ( tempat tinggal kita sekarang ) untuk sanak saudara kita. Jika kita pulang ke rumah orang tua, maka selama kita di sana seluruh biaya hidup sehari – hari, kitalah yang memanggungnya. Hal ini untuk menunjukkan rasa bakti kita kepada orang tua, juga secara tersembunyi untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih baik di perantauan ( walaupun dalam kenyataannya tidak demikian ) Hal ini rasanya perlu dipersembahkan kepada orang tua, agar orang tua yang kita tinggalkan di kampung halaman itu memiliki ketenangan hidup, karena putra – putrinya telah memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika kita pulang ke kampung alanglah sangat baik jika kita membahagiakan ora ng tua kita. Jadi sebaiknya pulang kampungnya kita itu jangan sampai membebani pikiran dan perasaan orang tua kita sendiri. Dari hal tersebut maka bisa kita bayangkan, bahwa pulang Mars Kutoarjo not angka 1kampung untuk mengobati homesick kita itu memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Lagu Mars Kutoarjo Memanggil adalah sebuah lagu tentang tata kehidupan masyarakat di sebuah kota kecil di daerah Jawa Tengah tepatnya di wilayah Kabupaten Purworejo. Kutoarjo adalah sebuah wilayah kecamatan dengan 27 Desa/Kelurahan dengan luas wilayah hampir 38 km2. Lagu ini  berisi ajakan kepada masyarakat di wilayah kecamatan Kutoarjo itu sendiri, juga warga masyarakat Kutoarjo yang ada di perantauan untuk bahu membahu membangun wilayahnya. Lagu ini diciptakan oleh musisi muda berbakat dari Kutoarjo yang bernama Joko Setyoko. Lagu pengobar semangat ini diinspirasikan oleh kecintaan si pencipta lagu akan kota kecil tempat kelahirannya tersebut. Pada video yang ada di Group Paguyuban Wong Thorjo di Facebook, Lagu tersebut diaransemen dalam format Tenor, Bariton, Bass dan dibawakan oleh kelompok vokal dari PAGUYUBAN WONG THORJO.  Harapan terbesar dari pembuatan lagu  ini adalah agar dapat mempersatukan semua elemen masyarakat Kutoarjo baik yang tinggal di wilayah itu maupun yang ada di perantauan untuk bersama sama membangun Kutoarjo menjadi suatu wilayah yang sejahtera, ayem tentrem serta mandiri.

Bagi kaum perantauan asal Kutoarjo, paling tidak lagu ini dapat membangkitkan motivasi untuk bekerja keras di bidangnya masing – masing, dan mampu kembali ke kampung halaman sebagai orang yang telah memiliki kehidupan yang lebih baik serta dapat dijadikan obat pengobat kerinduan akan keindahan kota Kutoarjo bagi yang belum mampu atau belum sempat mudik. Selain daripada itu juga dapat memiliki kebanggaan tersendiri sebagai bagian dari masyarakat Kutoarjo.

Selasa, 04 Mei 2010

BERAK

Gunaksa_PasirTruk2 Rasanya muka kita akan merah padam, jika misalnya anak kita mengucapkan hal demikian saat kita sedang, makan di suatu restoran, atau sedang bertamu, atau mungkin juga saat kita sedang menghadiri pesta pernikahan. Ya… itu memang kata yang tidak enak untuk didengarkan. Suatu kata yang berkonotasi dengan hal - hal yang menjijikkan atau kotor. Oleh sebab itu rasanya tidak pantas kalau diucapkan ketika sedang bersama – sama dengan orang lain. Dalam beretika agar terdengar lebih santun, maka kata itu diganti dengan istilah BAB (Buang Air Besar). Atau mungkin juga kalau kita sedang menginginkannya, maka kita berpamitan dengan istilah izin mau ke belakang. Jadi dalam lingkup pergaulan agar kita dianggap orang yang santun, orang yang beretika, atau mengerti tata krama maka kita akan pantang mengucapkan kata itu terutama saat sedang bersama – sama dengan orang lain. Tetapi kita biasanya akan sedikit maklum jika kata itu diucapkan dalam lingkup keluarga saja. Dan tidak akan bermasalah jika anak kita yang kecil yang mengucapkan. Dan biasanya akan dengan lemah lembut ibu akan memberi nasihat kepada anaknya agar tidak mengucapkannya lagi selanjutnya si ibu akan dengan sabar mencontohkan cara mengucapkan yang baik. Kalau si anak itu termasuk anak yang cerdas maka dia akan bertanya mengapa tidak boleh mengucapkan kata itu. Biasanya diberi jawaban bahwa kata itu biasa digunakan untuk hewan, misalnya ayamnya berak di lantai.

Di sisi lain kata ini menjadi kata yang bukan berarti menjijikkan atau kotor. Bahkan banyak orang yang senang kalau ada  “ berak “. Itu artinya akan membawa rizki tersendiri bagi beberapa pihak. Kata berak ini lumrah digunakan dalam bisnis jual beli pasir. Jika berak terjadi maka ada beberapa orang yang akan mendapatkan keuntungan, di antaranya adalah :

  1. Supir dan kernet truk yang membawa pasir.
  2. Buruh aduk pasir.
  3. Pengumpul pasir di pangkalan sementara.

Untuk yang no. 2 dan 3 adalah pihak – pihak yang sangat mengharapkan dengan adanya kegiatan yang disebutkan dengan istilah berak tadi. Buruh aduk pasir adalah orang yang pekerjaannya mengaduk – aduk pasir yang ada di suatu truk yang baru datang dari tempat pengambilan atau penggalian pasir. Truk yang baru datang tersebut biasanya isi pasirnya masih sangat padat, jadi tugas para buruh aduk pasir ini adalah mengaduk pasir yang ada di bak truk agar tidak terlalu padat. Setelah diaduk, isi pasir yang ada di bak itu menjadi terlihat lebih banyak.  Tugas selanjutnya adalah menurunkan kelebihan  pasir yang sudah diaduk, untuk dijual kepada pengumpul pasir  ( inilah yang disebut dengan istilah berak ) dalam bisnis jual beli pasir. Dari pekerjaannya itu buruh aduk pasir mendapat imbalan berkisar Rp 3.000 sampai Rp 5.000 untuk satu truknya. Jika dalam sehari ada 10 truk maka dalam  seharinya  maka buruh  aduk pasir akan mendapatkan    Rp 30.000 sampai Rp 50.000 . Selanjutnya pengumpul pasir berakan   akan mengumpulkan berbagai macam pasir untuk dijual kepada  para pembeli. Pasir berakan biasanya dijual dengan harga lebih murah dari pasir yang kita beli di pangkalan resmi pasir atau atau tempat penggalian pasir. Selanjutnya dari sekali berak tersebut, sang supir dapat mengantongi antara Rp 25.000 sampai Rp 35.000 tergantung dari mutu pasir yang dibawanya.

Kalau dilihat dari sudut pandang supir, buruh aduk dan pengumpul, kegiatan berak ini sangat menguntungkan, tapi kalau dilihat dari seorang pembeli pasir ini jelas – jelas sangat merugikan. Kerugian itu karena pembeli tidak akan mendapatkan pasir dengan takaran yang sebenarnya. Jika kita membeli pasir dari tempat penggalian pasir, supaya kita sebagai pembeli tidak terlalu merasa dirugikan saat membeli pasir tersebut,  diperlukan sedikit ketelitian dalam menilai truk pasir yang membawa muatan pasir. Ada beberapa ciri dari truk pasir yang belum berak di antaranya  yaitu:

  1. Masih banyak air yang keluar dari sela – sela bak truk.
  2. Jika kita naiki pasir yang ada di bak truk, kaki kita tidak terbenam terlalu dalam.

  

Sabtu, 01 Mei 2010

MENGAJAK PUTRA – PUTRI KITA MENGIKUTI MUHASABAH DAN MOTIVASI JELANG UASBN 2010

“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan ”.

 animasi-berdoa Itulah janji Allah SWT yang mesti kita yakini. Hal ini bisa kita berikan kepada putra – putri yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yang mana mereka sebentar lagi akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional, tepatnya Hari Selasa hingga Kamis, tanggal 4 – 6 Mei 2010. Pembekalan yang demikian ini dapat memberikan motivasi tersendiri bagi putra – putri kita, dimana dalam mengikuti UASBN, mereka memiliki keyakinan mental, bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti UASBN itu sendiri.

Dengan keyakinan mental yang kuat, diharapkan mereka akan tenang dan lebih teliti dalam mengerjakan soal – soal, dan tidak dihantui bayang – bayang ketidaklulusan jika mereka tidak mampu mengerjakannya. Kepanikan saat mendapatkan soal yang sulit dikerjakan justru akan menimbulkan kebuntuan dalam mencari penyelesaian jawaban dari soal itu sendiri. Jadi intinya ketenangan mental itu sendiri sangat diperlukan dalam menghadapi suatu kegiatan yang penting seperti UASBN.

berdoa Prinsip berdoa dan berusaha sebaiknya sudah tertanamkan dalam diri putra – putri kita,  dan jika mereka sudah melakukan hal tersebut dengan sebaik – baiknya, diharapkan mereka mampu menerima hasil apapun sebagai suatu ketentuan dari yang datangnya Allah SWT. Dengan bekal yang demikian diharapkan putra – putri kita itu, nantinya tidak memiliki rasa yang berlebihan terhadap hasil atau keputusan yang diberikan kepada mereka setelah melaksanakan kegiatan UASBN ini. Harapan yang terbesarnya yaitu jika mereka lulus dengan hasil yang memuaskan, mereka tidak akan bergembira secara berlebihan, ataupun sebaliknya jika mereka mengalami kegagalan mereka tidak akan melakukan tindakan – tindakan yang tidak diharapkan, atau tindakan yang merugikan diri mereka sendiri.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah dimanakah putra – putri kita itu bisa mendapatkan kegiatan tersebut? Kegiatan Muhasabah dan pemberian Motivasi biasa dilakukan oleh sekolah – sekolah tertentu, yang memang memiliki program kerja yang terancang dengan baik. Adalah sekolah yang mampu memberikan pembekalan baik secara fisik maupun mental. Kita sebagai orang tua tentunya, sekarang ini harus dapat lebih selektif dalam menentukan tempat pendidikan untuk putra – putri kita. Untuk memilih sekolah yang demikian ini dapat kita liat dari  :

  • Visi dan Misi sekolah tersebut.
  • Sarana dan Prasarana  sekolah.
  • Program pembelajaran yang ditawarkan.
  • Kualifikasi pendidikan dari Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut.

Bagaimana jika putra – putri kita sudah terlanjur bersekolah yang belum berkriteria seperti yang diharapkan? Cara yang terbaik adalah membantu dan mendampingi mereka lebih dari yang sudah biasa kita lakukan. Dengan kedekatan yang lebih ini, Insya Allah putra – putri kita akan lebih siap lagi dalam menghadapi UASBN.

CONTOH DARI KEGIATAN MUHASABAH                DI SDSN ISLAM AL HASANAH CILEDUG,              KOTA TANGERANG