Laman

Sabtu, 14 Januari 2012

SERIAL BANG UDIN 9

KONDANGAN
28ahtenane

Hari ini banyak banget Bang Udin dapet undangan dari kenal-kenalannya, ada yang ngundang sunatan ada juga yang ngundang kawinan. Semuanya ada 6 undangan.. Baru 2 tempat kondangan ia datangi, ia sudah kekenyangan. Iapun akhirnya tetap melanjutkan ke tempat berikutnya. Di tengah perjalanan ia bertemu Mas Paijo dan ia pun bertanya
Mas Paijo : Kok motornya dituntun Bang, gembes ya ban motornya.
Bang Udin : Enggak Mas..
Mas Paijo : Mesinya ngadat Bang.. ?
Bang Udin : Nggak juga Mas...
Mas Paijo : Bensinnya habis..?
Bang Udin : ngggaaakkk...Massssss..
Mas Paijo : Terus kenapa motor dituntun...?
Bang Udin : Masss... saya kan kondangan baru 2 tempat dan masih ada 4 tempat lagi.. jadi saya nuntun motor ini biar cepet laper... jadi nanti bisa makan lagi.....

NGAJARIN NGERAYU
Sini Mang Yayan aku ajari ngerayu cewek' kata Bang Udin sambil duduk2 di teras rumahnya. Mosok sampai sekarang belum punya pacar juga lanjutnya.
Bang Udin : meskipun laut terbentang luas di antara kita, aku akan berenang untuk sampai ke tempatmu"
"meskipun ribuan gunung menghalangi kita, aku akan mendakinya untuk terus bersamamu"
"dan meskipun badai api mengelilingimu, aku akan menerobosnya untuk terus menyelamatkanmu"
Mendengar itu istri Bang Udin keluar.. " Jangan percaya Mang Yayan, waktu aku ulang tahun ke 17 aja dia nggak dateng..
Bang Udinpun menjawab : Kan waktu itu ujan dan depan rumahku becek banget....

TUKANG DAGING
Mengantar belanja adalah pekerjaan yang membosankan buat Bang Udin, Tapi karena mau ada acara arisan di rumahnya terpaksa ia mengantar istrinya juga ke pasar. Karena itu bawaannya di pasar sewot terus. Terutama saat di los tukang daging yang kebetulan banyak pembelinya, Ia sangat sewot ketika tertabrak tukang daging, Ia pun berkata:
Bang Udin : Hei.. tukang daging.. kamu nggak punya otak ya..
dan dengan sangat sopan tukang Daging menjawab "Aduhh bang maaafff... kebetulan sudah habis.. kalau ati mau nggak Bang..."

RAPORT                                                                                                   Kali ini Bang Udin bener-bener marah kepada anak semata wayangnya Aliudin. "Kenapa nilai rapotmu jelek - jelek begini, padahal temen-temenmu nilai bagus-bagus"
Kamu bercanda terus ya di kelas, lanjut Bang udin dengan nada tinggi. Dan dengan terbata-bata Aliudin pun menjawab
" temen-temen.. Ali.. nilainya.. bagus-bagus.. karena.. ayahnya pinter - pinter...

NILAI 10                                                                                            Melihat anaknya yang ceria waktu pulang sekolah, Bang Udin pun bertanya.
Bang Udin : " Wah gembira banget Ali... nilaimu bagus ya"
Aliudin : " Iya ayah, aku tadi dapet nilai 10 dong"
Bang Udin : " Pinter..gitu dong anak bapak, temenmu siapa aja yang dapet 10?"
Aliudin : " Cuma aku aja yang dapet nilai 10"
Bang Udin : " Wah hebat anak bapak, gitu dong cakep namanya..terus temanmu berapa aja nilainya?"
Aliudin : " Ni Yah.. Fatimah dapet 100, Mamat dapet 85, Ujang dapet 90, lainnya aku nggak apal.."
Bang Udin : @*&^%+_)(*&!e%g&8...

KEPLESET

Mas Paijo tahu nggak, anjing tetangga kita yang baru itu galak banget ya, kata Bang Udin. Tadi waktu lewat aku dikejarnya, lanjutnya.
Mas Paijo : aku nggak tahu Bang.. biasanya dirataikan?
Bang Udin : Aku tadi dikejar-kejar waktu lewat depan rumahnya. Untung anjingnya kepleset terus dan aku bisa naik pohon buat menghindar.
Mas Paijo : Kalau aku, sudah terkencing-kencing Bang, dikejar-kejar begitu.
Bang Udin : Lo aku juga begitu Mas Paijo... Mang Mas Paijo nggak kepikir tuh anjing kepleset air apa...

ORANG TUA DORAEMON

"Tuh tanya aja sama Mas Paijo, biar tua kan seneng film kartun", kata Bang Udin ama anaknya Si Aliudin.
Aliudin : Pak Paijo siapa sih nama orang tuanya DORAEMON ?
Ma Paijo : " Waduh siapa ya... kalau ndak salah ya DORANGERTI ama DORAWERUH..

GURUKU

GURUKU

Bapak dan ibu guruku yang pernah membimbingku selama bersekolah di SPG Negeri 1 Jakarta. Adalah sebuah sekolah yang cukup megah buat ukuranku sebagai seorang lulusan SMP dari pelosok desa. Sekolah yang sedikit banyaknya telah mengantarkanku dan membekaliku dengan berbagai ilmu, hingga aku memiliki kehidupan seperti ini. Tak terbayangkan sebelumnya kalau aku bisa diterima di sekolah itu. Sekolah yang banyak memiliki tenaga pendidik yang menjadi publik figur di sekitar tahun 90an, seperti diantaranya Ibu Meinar, Ibu Fatimah Ishaq, dan pak AT Mahmud yang juga merupakan seorang pencipta lagu anak – anak. Bapak ibu guru.. terima kasih yang tak terhingga atas segala usaha, dan jerih payhmu dalam membimbing dan mengasuh kami semua, semoga jasa-jasamu yang besar ini hanya Allah SWT yang akan membalasnya.  Sebagai siswamu doaku menyertai dengan harapan terbesar semoga pengabdianmu akan menjadi pahala dan juga bekal terbaik jika suatu saat nanti kau menghadap Illahi…

Kamis, 05 Januari 2012

AKU DAN KELUARGAKU AWAL TAHUN 2012

DHALEME SIMBAHKU

desaku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu pertama melihat foto ini di FB..sungguh aku sangat terharu sekali. Tak dapat terkatakan perasaan yang ada.. Keterharuanku yang amat sangat itu karena rumah ini telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupanku. Masa kecilku sebagian besar kuhabiskan di rumah ini. Masa dimana penuh dengan keceriaan, kegembiraan, dan belajar berbagai macam hal. Belajar mengenal tentang tentang hidup dan kehidupan. Belajar mengenal alam dan lingkungan. Belajar bersosialisasi dengan warga di sekitar. Kesemuanya itu adalah berkat kesabaran dan kegigihan simbah dalam mengasah, mengasih dan mangasuhku sehari – hari. Simbahku bukanlah seseorang yang memiliki kedudukan penting di desanya. beliau hanyalah seorang petani biasa. Jadi penghidupan kakekku saat itu memang sangat tergantung sekali dengan hasil panen yang ada. Hal ini benar-benar aku rasakan bagaimana kehidupan seorang petani. Pernah di sekitar tahun 1978 waktu itu seluruh tanaman padi para petani mengalami gagal panen karena serangan hama wereng. Dan tahun itu menjadi tahun yang paling menyulitkan bagi para petani. Beras menjadi sesuatu yang berharga dan sangat mahal. Sedangkan hal itu menjadi kebutuhan pokok. Sebagai seorang petani yang penghasilannya hanya mengandalkan hasil panen, sungguh sulit mengahadapi keadaan pada saat itu. tetapi hidup harus berlangsung, dan kehidupan harus diperjuangkan. untuk kesemuanya itu keluarga simbah sangat mengandalkan tanaman pisang yang ada. Pisang – pisang yang biasanya dimakan kalau sudah matang, kali ini terpaksa dimakan dalam keadaan masih hijau. Pisang itu dikupas dan direbus, setelah direbus ditumbuk dengan sedikit garam dan dicampur kelapa parut. Dan itulah makanan kami sehari-hari dalam menghadapi musim yang sulit.  Karena sulitnya dan mahalnya beras simbah hanya mampu menyediakan nasi kalau sore hari ( malan malam ). Itupun simbah harus membagi dengan adil untuk kami semua. Untuk itu maka simbah membagi nasi dalam piring-piring sebanyak anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga  mendapat jatah  satu piring nasi yang sama. Dan sebagai seorang anak yang masih dalam masa pertumbuhan jatah ini dirasa kurang, maka agar merasa sedikit kenyang kami nambah makan dengan makan kerak nasi. Yang paling nikmat menurutku adalah kerak nasi yang masih baru lalu disiram dengan sayur yang ada. Kenikmatan itu memang sangat terasa karena faktor kesulitan makanan,bukan karena faktor olahan. jadi makan nasi lengkap dengan sayurnya adalah susuatu yang sangat nikmat ( mak nyusss istilah sekarang ) di kala itu.

Di sini simbah juga sering mengajarkan silsilah keluarga dan bagaimana aku harus memanggil atau menyebutkan sesorang dengan sebutan yang pas untuk saudara-saudara simbah. Seperti Misalnya mBah Karyo, mBah Citro, Lek Ponidi, mbah Bingah, Lek Saroso dan lain-lainnya. Dan yang paling berkesan adalah simbah sering mengajakku ke tempat saudara-saudaranya  yang tinggalnya masih di desa Lugu dan sekitar. Kesemuanya itu agar aku mengerti unggah – ungguh dan kenal dengan semua saudara yang ada…Dari hal itu aku mengerti, dalam kesederhanaan hidupnya simbah selalu mengajarkan kita jangan sampai lupa kepada para leluhur dan semua keturunannya. Dengan demikian kita sebagai seseorang jadi mengerti akan tatakrama dalam pergaulan sesama saudara.

Dan yang paling menentukan jalan hidupku sekarang ini adalah di dalam rumah inilah aku mulai mempunyai cita – cita sesudah aku besar nantinya. Cita – citaku itu kumulai dengan belajar yang rutin walau tidak terlalu tekun… Di dalam rumah itu simbah memiliki Meja Besar dan kursi panjang yang digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga. Semua aktifitas kekeluargaan seperti, makan, belajar, bersandau gurau, bercerita sering kami lakukan di situ… Dan disitulah tempat aku berandai-andai tentang cita-citaku nantinya, dan Alhamdulillah apa yang kuimpikan sejak kecil itu kini telah tercapai. Aku yakin kesemuanya itu ada andil dari simbahku.

Simbahku berdua kini telah tiada. Simbah yang telah merawat, melindungi, mangasah, mengasih dan mengasuhku sejak kecil, kini semua itu hanya kenangan yang selalu terbayang. Senyum dan tawa simbah yang kadang sering muncul dalam mimpiku. dan yang paling banyak kuimpikan adalah simbahku putrriku. Aku sering berjumpa beliau dalam mimpi – mimpiku. Semua itu mungkin karena dulu simbah pernah berjanji kepadaku akan membuatkan engkung ayam kalau aku sudah sembuh dari sunatku. Dan janji itu tidak pernah terbayarkan sampai simbah meninggal. Dan setiap setelah bermimpi itu,  aku selalu berdoa “Mbah aku ikhlas simbah belum membuatkanku seekor engkung ayam, janji simbah sudah aku anggap lunas, karena untuk seekor engkung ayam buatku saat ini bukan sesuatu yang sulit lagi, semua itu berkat doa-doa simbah, dan utang janji simbah sudah aku anggap lunas, harapanku semoga simbah selalu tenang di alam sana. Sekarang hanya doaku untuk simbah berdua, semoga Allah mengampuni segala dosa – dosa simbah, menerima segala amal ibadah yang pernah simbah lakukan dan Allah menempatkan simbah di dalam surga milik Nya… Matur nuwun mbah..  simbah sudah banyak mengajarkan aku tentang arti kehidupan di alam terang benderang ini…