Laman

Jumat, 30 April 2010

UASBN DAN IMPLEMENTASINYA

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 74 Tahun 2009 Pasal 3 disebutkan bahwa Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional ( UASBN ) memiliki tujuan sebagai berikut :

  • Menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
  • Mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu.

Untuk mencapai kompetensi lulusan yang diharapkan tentunya diperlukan adanya suatu standarisasi nasional tersendiri bagi mata pelajaran – mata pelajaran yang diujikan. Dengan adanya standarisasi nasional tersebut, akan dapat diukur secara pasti tingkat keberhasilan dari penyelenggaraan pendidikan di masing – masing daerah. Selain daripada itu standarisasi sebagai alat ukur pencapaian kompetensi lulusan ini akan dapat memberikan gambaran yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk :

  • Menentukan besaran prosentase kompetensi minimal yang mampu diraih oleh peserta didik secara nasional.
  • Membuat pemetaan mutu satuan pendidikan.
  • Penentuan penyeleksian dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
  • Penentuan kelulusan bagi peserta didik dari satuan pendidikan.
  • Penentuan pemberian pembinaan dan bantuan kepada satuan pendidikan tertentu dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan.

  Dengan adanya standarisasi nasional yang diwujudkan dalam bentuk UASBN ini diharapkan dapat memotivasi para siswa, guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan untuk memacu proses pembelajaran yang ada hingga mampu mencapai ataupun melebihi dari kriteria minimal yang diharapkan.  Pada dasarnya penerapan kebijakan standarisasi nasional dalam bentuk UASBN ini lebih banyak nilai positifnya dibandingkan dengaSekolahkun nilai negatifnya. Diantara sekian banyak nilai positif dari pelaksanaan UASBN ini yang terpenting adalah akan memotivasi dalam pencapaian wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu. Pendidikan dasar yang bermutu itu dapat terwujud jika dari aspek pelaksanaan pembelajaran yang ada itu memenuhi kriteria seperti yang tertuang dalam UU Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dimana dalam UU tersebut dijelaskan mengenai standar pendidikan yang terdiri dari:

  • Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  • Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
  • Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
  • Standar Sarana dan Prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
  • Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
  • Standar Pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
  • Standar Penilaian Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

Standarisasi dari pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan harus mengacu dan memedomani ini. Jika ini dapat dilaksanakan oleh seluruh penyelenggara pendidikan maka dapat dikatakan pendidikan yang dilaksanakan itu adalah pendidikan yang bermutu. Namun demikian dalam kenyataannya pelaksanaan dari ke 8 standar nasional pendidikan ini tidak dapat dijalankan sepenuhnya di berbagai daerah. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor di antaranya yaitu :

  • Kebijakan pemerintah daerah yang berbeda, khususnya  dalam mengalokasikan angaran pendidikan.
  • Kurangnya Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
  • Belum adanya kerjasama yang baik antara satuan pendidikan dengan dunia usaha yang ada di daerah.
  • Minimnya anggaran operasional yang ada.
  • Kurangnya kemampuan dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

Dari faktor – faktor yang disebutkan itu, kiranya pemerintah harus dapat mengambil suatu kebijakan yang dapat diterima oleh berbagai pihak, agar pelaksanaan UASBN sebagai standarisasi mutu pendidikan nasional ini, dapat ujian-nasional meminimalisir kerugian yang dialami terutama oleh peserta didik. Sebagai contoh jika peserta didik tidak mampu mencapai standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan pada mata pelajaran yang diUASBNkan, tidak langsung dinyatakan tidak lulus, tetapi harus dipertimbangkan kelulusannya. Karena siswa yang memperoleh nilai belum mencukupi itu, bukan faktor dari ketidakmampuan siswa itu semata dalam menjawab soal – soal yang ada, tetapi banyak faktor lain yang berperan sehingga siswa tersebut tidak mampu mendapatkan nilai seperti yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi lulusan.

Selanjutnya standarisasi ini juga harus tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya agar dapat menjadi acuan bagi penyelenggara pendidikan dalam mencapai dan meningkatkan mutu lulusannya. Sebagai contoh jika suatu sekolah memiliki siswa yang banyak tidak mencapai standar kelulusan, maka sekolah tersebut sebaiknya diberikan penurunan nilai akreditasinya. Dengan demikian nantinya sekolah akan tetap terdorong untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang ada. Suatu sekolah yang mengalami penurunan dalam akrediatasinya, tentunya akan mendapat penilaian tersendiri dari masyarakat. Dalam langkah selanjutnya tentunya masyarakat meninggalkan sekolah yang asal berjalan saja dan akan lebih selektif dalam memilih sekolah bagi putra – putrinya. Mereka tentunya akan memilih sekolah – sekolah yang telah melaksanakan standar pendidikan secara maksimal dalam penyelenggaraan pendidikannya. Dengan pelaksanaan standar pendidikan secara maksimal ini, maka bagi sekolah yang melaksanakannya akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas ( memenuhi standar kompetensi lulusan ).

Rabu, 28 April 2010

Selamat Jalan Kawanku

“ Pantesan macem - - macem chordnya, Kang Purwa dari Ciledug yang main, kirain siapa tadi”. Ngomong – ngomong Pak Wito kursus di mana” lanjutnya. “ Ah nggak kok saya cuma ngrasain melodinya aja, terus kayaknya chord miringnya tuh lebih enak kalau begini”. Tapi Pak Wito mainnya asyik banget” imbuhnya,  “Ah biasa aja kok, masih lebih Asyik Pak  Haji, lagu dangdut mlintir kaya apa aja pasti bisa mainnya” jawabku. Dia tersenyum sambil berkata, “ Wah bisa aja nih Pak Wito”

Itulah sepenggal pembicaraan yang kami lakukan waktu Hari Kamis, 22 April 2010, disaat pelaksanaan Lomba Paduan Suara dalam rangka Peringatan Hari Kartini di Gedung Nyi Mas Melati.dengan dilanjutkan banyak sekali lainnya, pembicaraan yang hangat setiap kali kita  bertemu dengannya, Kami selalu berdiskusi H. Kahlan n metentang  seputar penyelenggaraan lomba, materi lomba yang sekarang diikuti, kegiatan – kegiatan di sekolah, dan masih banyak lagi lainnya. Hari itu dia begitu mengagumi keyboard yang aku bawa, banyak hal yang dia tanyakan tentang keyboardku itu dari jenis stylenya hingga kualitas bunyi. Dia mengamati dengan seksama detil – detil keyboardku itu, terus mencobanya sebentar. semua itu kita lakukan di sela – sela menunggu giliran tampil ke panggung perlombaan.

Yah begitulah kami jika bertemu selalu dalam berbagai macam kegiatan perlombaan di bidang seni musik, entah itu Lomba Seni dan Kreativitas Siswa, Lomba Vokal Solo, Lomba Paduan Suara dan Lomba Bidang Studi. Kami berdua memang berprofesi sebagai guru musik di dua sekolah yang berbeda dengan wilayah yang berbeda pula. Jadi jika bertemu selalu bersaing untuk menunjukkan kelebihan dari bakat siswa kami masing – masing.

Hari Selasa, 27 April 2010 adalah hari dimana diadakan pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Sekolah Dasar untuk seleksi Tingkat Kota.  Sesampai di tempat lomba aku mencari dia, ternyata dia tak kunjung terlihat, sampai akhirnya acara pembukaan pun dimulai. Pembawa acara mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin dan juga pejabat tingkat kota yang berkenan hadir. Selanjutnya dia mengumumkan berita duka cita bahwa telah berpulang ke Rahmatullah seorang Pahlawan pendidikan, dia menyebutkan nama Bapak H. Kahlan dari Kec. Cipondoh.

Aku merasa tidak mempercayai pendengaranku sendiri, aku tak mampu mengucapkan kata – kata, dan hanya tertunduk lemas…  dia yang beberapa hari yang lalu terlihat, segar bugar, cerah ceria, muda dan bersemangat,ternyata takdir menentukan lain untuk jalan hidupnya. dalam keterdiaman itu tak terasa air mataku mengalir, dan aliran air mata ini makin deras setelah pembawa acara mengajak para hadirin untuk mengirimkan Fatihah untuknya.

Aku banyak diam selama kegiatan itu, dan dari berita yang disampaikan oleh rekan yang satu kecamatan dengannya, dia meninggal karena darah tinggi dan stroke. Masih lekat dalam bayangan, dia adalah sosok yang supel dengan senyum yang ramah, dan perkataannya yang santun. Kini dia telah tiada, untuk menemui Sang Khaliq. Selamat jalan teman, semoga semua amal bakti dan ibadahmu diterima oleh Allah SWT, diampuni segala dosa-dosamu, dan dilapangkan serta diterangkan alam kuburmu. Hanya doa yang dapat kuberikan untukmu, semoga Allah mengabulkannya. Amin…

Senin, 26 April 2010

Kasir

Sore itu aku mengunjungi sebuah mall yang cukup besar, yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sebenar370251169_b5eae75c87nya agak malas juga mau kesana, tapi mengingat laptop sudah mulai ngaco kerjanya, ya mau gak mau akhirnya jalan juga. Melihatku memakai jaket yang biasa kupakai jalan, langsung saja istriku ikut. Katanya ingin beli sepatu untuk senam. Aku pun mengiyakan. Dan tak berapa lama sampailah di counter perlengkapan computer yang ada di lantai tiga dari mall itu. Sementara itu istriku langsung masuk ke departement store yang ada di mall itu. Memang counter ini sudah lama menjadi langgananku untuk keperluan akan computer dan laptop yang kumiliki. Seperti biasa pemilik counter itu ramah sekali melayaninya, dengan senyum yang cukup lebar dia menanyakan apa yang bisa dia bantu. Dan setelah perbaikan kecil dari program yang ada, akhirnya aku mengeluarkan kocek sebesar Rp 25.000,00 sebagai imbalan atas jasa perbaikan. Dan dengan senyum yang makin lebar si pemilik counter menerima uang tersebut disertai sorot mata yang menggambarkan rasa terimakasih yang tak terhingga. Mendapat pelayanan yang seperti itu, aku merasa menjadi seseorang yang lebih, klo boleh meminjam istilah dalam bahasa jawa yaitu “diuwongke” . Nah sore itu aku benar – benar merasakannya dengan pelayanan yang diberikan oleh pemilik counter itu. Memang tidak salah aku memilih counter itu buat dijadikan langganan.

Dan dengan perasaan puas yang mendalam aku keluar dari counter itu menyusul istriku yang ada di departemen store. Sesampainya di sana dia belum juga mendapatkan sepatu yang diinginkanya, dari berbagai merek dan harga dia coba berganti – ganti. Sepertinya dia memiliki energi yang lebih untuk jalan mundar – mandir, jongkok berdiri mencoba berbagai merek sepatu. Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya didapatkan juga yang cocok dengan pilihannya. Karena hari itu sedang ada discount, dia beli juga dua pasang sepatu lagi untuk santai. Memang wanita sepertinya mudah tergiur dengan discount.

Akhirnya tiba saat pembayaran di kasir, lumayan juga harus agak antri. Dengan cekatan sang kasir dengan rekan kerjanya yang satu lagi melayani pembeli. Dia ucapkan selamat datang, menanyakan memiliki member atau tidak, dilanjutkan dengan pertanyaan mau dibayar chas atau tidak, lalu mempersilahkan memutar jam pasir untuk menilai tentang kecepatnya melayani pembeli. Setelah menerima pembayaran seharga hampir lima ratus ribu rupiah, dia mengucapkan terimakasih, dilanjutkan dengan mengucapkan ya….yang selanjutnya.

Ada hal yang sangat mengusik di hati atas pelayanan yang diberikan oleh kasir sebuah departement store yang cukup besar itu. Memang dia melayani dengan cukup cekatan, hanya aku merasakan seperti dilayani oleh sebuah robot. Aku katakan demikian karena ada beberapa alasan yang aku liat dari kasir tersebut seperti misalnya :

1. Waktu dia mengucapkan selamat datang, dilakukannya tanpa menatap wajah pembeli, dan ucapan yang diberikan itu dilakukan sambil melakukan hal – hal yang lain. Aku menilai ucapan yang diberikan itu sepertinya hanya sekedar ucapan kewajiban yang harus ia lakukan. Atau dengan kata lain itulah instruksi yang harus dia lakukan kalau melayani pembeli. Alangkah baiknya bila ucapan yang diberikan itu didasari oleh hubungan saling membutuhkan antara pembeli dan penjual, ( dalam hal ini diwakili oleh kasir dari departement store tersebut ) sehingga ucapan yang diberikan akan lebih bermakna.

2. Selanjutnya pertanyaan memiliki member atau tidak, membayar chas atau pakai kartu semua dilakukan dengan lebih banyak menatap ke layar monitor mesin pembayaran. Cara pelayanannya seperti diuber – uber sesuatu agar cepat selesai. Atau dengan kata lain dia takut dengan jam pasir yang dia persilakan untuk diputar, akan habis akan habis lebih dahulu, sementara dia belum selesai melayani.

3. Yang terakhir, ucapan terimakasihnya dilakukan sambil lalu saja. Dan ucapan terima kasih yang diberikan itu juga tidak memiliki makna ( rasa gembira karena mendapat untung, dan dari untung yang didapat itu dia mendapatkan gaji.)

Dari dua kejadian sore itu ada pelajaran menarik yang bisa aku ambil, yaitu bahwa walau cepat, aku tidak mendapatkan pelayanan yang menempatkan pembeli adalah raja, atau kalau istilah itu terlalu tinggi, ya seperti tadi “diuwongke” . Seperti di counter perlengkapan komputer hanya dengan membayar Rp 25.000,00 aku telah mendapatkan pelayanan yang seharusnya didapat oleh seorang pembeli, tetapi dengan membayar 20 kali lipat aku tidak mendapatkannya di departement store tersebut. Menurutku akan lebih berarti kalau pelayanan yang dilakukan, didasari dengan hati seperti yang dilakukan si pemilik counter, bukan karena aturan atau keharusan. Dengan demikian maka setiap pembeli yang datang merasa jadi raja ( memiliki kepuasan yang mendalam ). Jika hal itu sudah dia dapatkan, maka si pembeli itu akan menjadi pelanggan yang setia. Sebagai pelanggan yang setia, tentunya dia tidak akan segan bercerita kepada saudara, tetangga, dan teman – temannya tentang tempat langganannya tersebut.

Kartinian

IMG_2510 Gadis itu menangis dengan tersedu – sedu, dan air matanya membasahi pipinya. Dengan penuh  kesabaran  bundanya terus membujuknya agar dapat tenang dan tidak menangis lagi. Sementara itu teman – temannya mengelilinginya dan berharap ia bisa ikut bersama. Rupanya keinginan itu sulit terwujud, karena sang gadis cilik itu makin tidak mau. Ia tidak mempedulikan lagi penampilannya. Make upnya sudah basah oleh air mata. Bajunya yang agak kebesaran sudah tak serapi seperti waktu datang tadi. Itu semua karena rasa takutnya untuk tampil ke atas panggung, dan ia pun terus memeluk ibunya.

Sementara di atas panggung yang dibuat sangat sederhana, dengan berbagai gaya teman – teman dari Sang Gadis tadi IMG_2540 menunjukkan aksinya untuk dapat merebut hati para juri agar memilihnya sebagai Gadis Kartini tahun ini. Gaya yang mereka tampilkan masih tampak polos, berjalan dengan agak tergesa – gesa, berhenti sebentar lalu membungkuk ke arah dewan juri sebagai tanda hormat, setelahnya berjalan lebih cepat lagi untuk segera turun ke panggung. Karena ingin buru – buru cepat turun panggung itulah ada beberapa diantaranya yang terjatuh. Dan dengan penuh kebanggaan bunda – bunda mereka menunggunya di pinggir panggung tempat mereka turun. Tak kalah sigap para ayah sibuk mengabadikan peristiwa itu dengan antusias.   Banyak kejadian – kejadian lucu yang terjadi di atas panggung.  Dari sepatu yang terlepas karena kebesaran, sampai tumpahnya bunga yang seharusnya disebarkan saat peserta itu lewat. Pemandangan itu membuat suasana menjadi lebih riuh. Hal itu terjadi silih berganti hingga semua peserta mendapatkan gilirannya. terakhir dari kegiatan peringatan itu adalah sesi pemotretan bagi yang berminat oleh fotografer yang telah dipesan oleh panitia sebelumnya. Walau kegiatan ini tidak dipaksakan, tetapi peminatnya cukup banyak.

Itulah pemandangan umum yang kita liat setiap diadakan perayaan Hari Kartini. Dengan sedikit pidato yang isinya tentang bagaimana Kartini menolak kungkungan budaya keraton, agar dapat tetap bisa belajar, dan membuat sekolah di lingkungan keraton. Ditambahkan juga dengan himbauan agar kaum wanita bisa lebih maju sejajar dengan kaum pria. Sebuah pidato yang sangat singkat tanpa penekanan secara mendalam hikmah apa yang sebaiknya diambil dari Peringatan Hari Kartini itu sendiri.

                                               Sebagai gadis yang berpandangan kartini_11maju pada zamannya, Kartini sangat menginginkan peningkatan derajat bagi kaumnya setingkat dengan derajat kaum pria, terutama dalam dalam hal memperoleh pendidikan. Kartini juga  adalah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan masyarakatnya yang jauh dari kehidupan yang layak. Ketertindasan, kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan  itulah hal – hal yang banyak ia ceritakan melalui surat – surat yang dikirimkan  kepada teman – temannya yang kebanyakan adalah orang Belanda. Selain hal itu, ia juga banyak menulis tentang harapan dan cita – cita sebagai perempuan Bumiputera ( Panggilan Belanda pada Bangsa Indonesia ) dan gambaran tentang harapannya itu seperti tertulis di salah satu suratnya yaitu

Daripada mati itu, akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan – tahan. Dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besok akan tumbuh juga dia. Dan hidup makin lama makin kuat makin tegak.

Kita semua mengetahui Kartini sebagai Pejuang Emansipasi Wanita, berkat kerajinannya menuliskan pandangannya tentang kehidupan  masyarakatnya, harapan, dan cita – citanya dalam sebuah surat. Seandainya peringatan kali ini diisi dengan semangat menulis sesuatu, mungkin akan lebih banyak yang kita tahu tentang harapan dan cita-cita anak – anak bangsa, daripada hanya sekedar melihatnya berlenggak – lenggok di atas panggung dengan memakai pakaian daerah. Atau dengan kata lain akan lebih bermakna peringatan itu jika diisi dengan mengasah dan menggali sesuatu yang tujuannya mencerdaskan anak bangsa seperti yang dicita-citakan Kartini, daripada hanya menampilkan kecantikan dan keluwesan semata.

 

Minggu, 25 April 2010

Ya Allah Ampuni Hamba Mu Ini

Aku seperti tersambar petir mendengarnya, keringatku mengucur menganak sungai, dan itu terasa sungguh tak wajar, di daerah perbukitan yang begitu dingin  di tengah malam yang menusuk tulang, keringatku mengucur dengan derasnya. Bayangan kengerian terhampar jelas dalam benakku. Dan kekesalan yang memuncak kepada kakakku berubah menjadi penyesalan yang mendalam. Dan juga terbesit sangkaan yang tak baik kepada Mu ya Allah, menjadi suatu ucapan syukur yang tak terhingga atas musibah itu. Sungguh suatu kejadian yang tak akan mungkin pernah diinginkan oleh semua orang yang di muka bumi ini bila hal itu benar – benar terjadi. Aku terpana mendapati kenyataan seperti itu. Karena aku hanya terdiam, tukang bengkel yang baik hati itu pun menegaskan kembali kepadaku “ Bener pak, kalau as mobil ini tidak pecah, bapak sekeluarga tidak akan selamat  meneruskan perjalanan bapak ini” Aku hanya menjawab dengan terbata – bata “ iya mas, terima kasih sebelumnya…” Lalu tukang bengkel (montir) itu menunjukkan sebuah wadah seperti botol yang terbuat dari plastik, yang letaknya di samping kanan belakang pada bagian mesin mobil Kijang yang kami sewa. Botol itu benar – benar kosong. “ Ini tempatnya minyak rem Pak” katanya “kalau bapak meneruskan perjalanan, tidak sampai 2 km mobil ini pasti remnya blong, padahal di depan tuh jalanya sangat berliku dan banyak jurangnya Pak” lanjut tukang bengkel itu lamudikgi.

Aku baru menyadari apa dibalik kejadian kerusakan yang terjadi pada mobil yang kami sewa. Rupanya Allah menyelamatkan aku dan keluargaku dengan musibah kerusakan pada ban mobil sewaan kami.  Aku yang tadinya agak menggerutu dengan kejadian itu, akhirnya sangat merasa bersyukur dengan musibah itu. Sebenarnya sudah banyak hal yang kurang beres pada mobil itu sebelum keberangkatan kami sekeluarga ke daerah Juana di Jawa Tengah. Waktu kami ambil dari rumah kakak di Pasar Minggu mobil itu berbunyi cukup halus. Aku bertanya kepada kakakku tentang kondisi mobil yang disewa itu. Dengan ringan kakakku menjawab bahwa mobil itu cukup bagus, sudah dicek semua kondisinya oleh pemiliknya yang juga berprofesi sebagai pemilik bengkel mobil. Walau umur mobil itu keluaran tahun 95 dengan latar belakang pemiliknya aku yakin sekali dengan kondisinya.  Ketika mau jalan dan mesin aku bunyikan terdengar suara seperti tembakan pada knalpotnya, wah kenapa lagi dengan mobil ini,  lalu seorang tetangga memberi tahu kalau knalpotnya bocor, tapi itu tidak apa – apa kalau dipergunakan untuk perjalanan jauh, hanya bunyinya saja yang lebih berisik. Dan ketika baru berjalan sekitar 100 meter, ternyata alat pemutar kaca pintu tidak ada pada tempatnya.  Aku terpaksa berhenti dan balik lagi ke rumah apa tadi copot waktu kami membuka pintu mobil itu. Ternyata benar dan alat pemutar itu dapat ditemukan lagi.

Semua itu adalah sebagian kecil gangguan. Yang kenyataannya masih banyak  gangguan – gangguan lainnya yang terjadi selama dalam perjalanan pulang kampung dan selama di kampung  istriku. Aku mau pulang kampung kali ini dengan menyewa mobil karena permintaan anak2 dan istriku yang menginginkan agar bisa banyak jalan2 selama di kampung halaman. Aku pikir tidak salahnya membahagiakan keluargaku. Atas dasar ingin membahagiakan keluargaku itulah aku mantapkan diri untuk pulang kamu dengan menyewa mobil. Aku membawa sendiri mobil itu, walau kakiku belum pulih 100% setelah operasi pasang pen 7 bulan yang lalu. Perjalanan ke kampung lewat jalur pantura yang memakan waktu selama hampir 33 jam karena kemacetan yang luar biasa selama dalam perjalanan,. yang normalnya hanya 10 – 11 jam. Ini benar – benar perjalanan yang berat. Alhamdulillah walau banyak gangguan karena mobil itu sendiri, kita bisa sampai di kampung halaman dengan selamat.

Setelah seminggu di kampung istri kami kembali lagi ke Tangerang, karena ingin berwisata, kami memilih jalur selatan untuk kepulangannya. Anak – anakku ingin melihat Candi Borobudur dan tempat wisata pantai dan juga Gua Jatijajar di daerah Gombong dan aku sendiri ingin mampir di rumah sahabatku di daerah Kutoarjo. Perjalanan menuju Candi Borobudur cukup lancar, walau untuk masuk ke areal Candi Borobudur sangat susah sekali karena padatnya wisatawan. Mobil mulai mengalami gangguan yang lebih serius  ketika aku menuju daerah Purworejo.  Perjalanan menuju Purworejo memang  sudah cukup malam setelah sebelumnya berkeliling – keliling di daerah Magelang. Ban mobil kanan depan berbunyi kletek – kletek, awalnya tidak begitu keras, tapi lama kelamaan bunyinya makin mengganggu. Dan sangat berasa sekali setelah tiba di Daerah Salaman seperti bunyi sesuatu yang rontok. waktu itu jam menunjukkan hampir jam setengah 11 malam.  Di daerah yang cukup sunyi itu tidak ada bengkel lagi. Aku mampir ke Polsek Salaman untuk meminta bantuan. dari seorang Polisi jaga itulah dipanggil seorang montir yang ada di daerah itu. Sang Montir mangajak kami sekeluarga untuk menginap di rumahnya sambil membetulkan kerusakan yang terjadi. Untuk ke rumahnya harus  masuk daerah sedikit berbukit, sekitar 1 km dari Polsek Salaman. Dia memiliki bengkel di depan rumahnya yang ternyata sangat jauh dari jalan besar. Aku heran kenapa kok Dia buka bengkel di tempat yang jauh dari jalan besar. Rupanya dia memang memiliki suatu keyakinan yang kuat, kalau Allah itu Maha Adil pada umatnya, dan rizki itu tidak akan ke mana, walau bengkelnya jauh dari jalan ada saja orang yang meminta tolong untuk memperbaiki kendaraannya. Dia juga sepertinya sangat pandai tentang segala macam mobil.

Karena waktu memang sudah cukup larut malam maka pekerjaan perbaikan itu dihentikan dan malam itu kami semua menginap di rumahnya montir mobil itu. ketika bangun pagi sekitar pukul 04:30 ternyata montir itu sedang sibuk memperbaiki mobil sewaan kami. dia juga memperbaiki banyak hal lain dari tape mobil ,viper, klakson dan lain – lainnya. sekitar jam 09:00 siang semua perbaikan selesai dan kami pun melanjutkan perjalanan. Ucapan terimakasih yang terhingga kepada Mas Montir yang sangat pandai dan baik hati itu kami haturkan sebelum keberangkatan kami. Dan alangkah buruknya kami karena sampai saat ini kami lupa akan nama Sang montir yang baik hati itu.

Dari kejadian itu ada suatu hikmah tersendiri yang aku ambil, ternyata kita kadang ( aku sendiri ) sering mengerutu dan mengeluh atas cobaan kecil yang diberikan Allah kepada kita. Padahal dibalik musibah atau kejadian  kecil itu ada suatu pertolongan besar dari Allah untuk kita.

Ya Allah… ampuni hambamu yang banyak dosa ini………

Sabtu, 24 April 2010

SUPIR ANGKOT

Motor kujalankan tidak terlalu kencang, sekitar 30 km/jam dan dengan kecepatan yang seperti itu aku berjalan agak kepinggir. Rasanya ini cara berkendaraan yang cukup aman untuk tingkat keamanan berkendara di daerah pinggiran Jakarta. Dan dengan tetap kewaspadaan yang cukup tinggi aku mengontrol laju motor yang kubeli dengan cara kredit itu. Berjalan seperti itu lebih terasa nikmat lagi karena di belakangku memeluk dengan mesra istri tercinta. Dan sangat terasa hari itu benar – benar hari yang indah. Apalagi perjalananku itu adalah perjalanan pulang, setelah menerima rapelan gaji. Terasa makin lengkaplah keindahan hari itu. Badan terasa ringan sekali, nafas lebih plong walau udara agak berdebu, aliran darah terasa lancar dan jantung berdegub dengan lembut dan teratur. Terbayang nanti sore nongkrong di tenda, sambil makan seafood kesukaan keluargaku.

Rupanya bayangan kenikmatan itu tidak diizinkan untuk berlama – lama, karena tiba –tiba sebuah mobil angkot memotong jalanku. Untung stang motor masih sempat kubelokkan ke arah kiri sehingga terhindar dari benturan yang fatal. Dan untuk menghindari agar angkot5tak menabrak trotoar kulakukan pengereman yang mendadak. Alhamdulillah di belakangku tak ada kendaraan, sehingga tak terjadi tabrak belakang. Ketika berhenti mendadak itu aku liat supir angkot buru – buru menaikan penumpang dan langsung tancap gas. Aku merasa keindahan hari itu sangat terusik oleh ulah supir angkot yang ugal –ugalan. Karena perbuatan yang seenaknya itu, aku merasa tidak terima diperlakukan seperti itu, tanpa pikir panjang lagi kukebut motorku dan kukejar sopir angkot itu. Kusejajarkan laju motorku dengan angkot itu tepat di sebelah sang sopir. Mungkin karena bersalah dan kukejar, akhirnya sopir itu menghentikan juga laju angkotnya, dan akupun berhenti tepat di samping pintu depan dekat supir. Dengan menahan kekesalan kutegur  supir itu agar tidak seenaknya saja membawa kendaraan. Dan dengan wajah yang dibuat seolah – olah bersalah walau memang sebenarnya sangat bersalah dia mengatakan minta maaf karena sedang mengejar setoran. Sebenarnya hati sangat panas mendengar ucapannya, tapi aku tidak mau berlama – lama debat kusir tentang benar salah dengan supir angkot itu. Dan itu hanya akan membuang – buang waktu saja. Aku lanjutkan perjalanku yang sudah  terkontaminasi dengan kejadian itu.

Sesampai di rumah aku berpikir kenapa secara umum supir angkutan yang ada itu kurang dalam hal kedisiplinan di jalan. Seperti kejadian tadi. hanya gara – gara ingin mendapatkan uang setoran keselamatan orang lain diabaikan. Dan hal itu hanya kejadian kecil yang  sangat mungkin terjadi tiap waktu. Seperti kejadian di Jakarta Pusat beberapa tahun yang lalu, dimana 2 metromini saling kebut-kebutan hanya untuk rebutan penumpang yang akhirnya salah satu metromini tercebur ke kali dan menewaskan sebagian besar penumpangnya, dan juga berapa banyak pengendara lain terserempet, tertabrak, menabrak karena angkot yang berhenti  mendadak.

Timbul pertanyaan apa yang harus dibenahi agar kejadian yang seperti ini tidak terulang kembali. Menurutku harus ada pembenahan dari berbagai aspek, agar profesi supir angkot itu tidak hanya sekedar mampu menjalankan kendaraan saja seperti :

  • Perekrutan tenaga supir dengan kulifikasi pendidikan dasar tertentu. Misalnya Pendidikan serendah – rendahnya SLTP.
  • Pengetatan pemberian SIM.
  • Harus memiliki serifikat uji kelayakan sebagai supir kendaraan angkuatan umum. ( walau sudah ada SIM )
  • Memiliki surat keterangan sehat dan bebas dari pengaruh obat – obatan terlarang dan minuman keras.
  • Adanya ketentuan upah minimum bagi para supir. ( untuk menghindarkan adanya nguber setoran )
  • Pemberian bonus dan tunjangan wajib oleh para pengusaha angkutan kepada supir armadanya masing – masing.
  • Pemberian sangsi yang ketat mulai dari pencabutan sertifikat hingga SIM, bagi supir yang yang tidak disiplin di jalan.

Hal yang diketengahkan di atas adalah mengenai hak dan kewajiban para supir angkutan agar dapat bekerja dengan memperhatikan keselamatan kerja bagi semuanya, baik  supir itu sendiri  maupun pengguna jalan yang lain. Demikian, semoga dapat bermanfaat bagi yang berkaitan dengan masalah ini…

Rabu, 21 April 2010

Irama Desa


Irama Desa

Kenanganku melayang setelah mengajarkan lagu ini. Lagu yang memberikan gambaran tentang sebuah dusun atau desa yang berada dibalik sebuah gunung. Lagu ini sungguh menyentuh, dengan syair sederhana tapi bermakna dalam. Tersusun indah syairnya yang menggambarkan sebuah kesunyian, keheningan, ketenangan, ketentraman yang dilingkupi oleh kedamaian. Sebagai orang yang pernah merasakan tinggal di suatu desa yang jauh dari hingar bingarnya keramaian kota, tentunya lagu ini banyak menggugah kenangan – kenangan indah waktu tinggal di desa. Seperti merasakan hembusan angin sawah, menikmati aroma tanah kering yang tersiram air hujan, mendengar gemericik aliran air, menggembalakan kerbau di sawah, mencari anak – anak burung, mencari jangkrik, bermain layang – layang, bermain serunai, memanen padi, mencari ikan dan masih banyak lagi lainnya. Kesunyiaan, ketenangan dan kedamaian itulah yang sekarang ini menjadi dambaan setiap kaum perantauan yang tinggal di kota – kota besar. Dimana mereka setiap saat harus berjuang keras untuk dapat bertahan hidup, memperjuangkan ekonomi keluarga agar tetap dapat mencukupi kebutuhan seluruh keluarga.

Saya sangat menikmati lagu ini ketika dinyanyikan anak – anak. Sebelum mengajarkannya saya bercerita sedikit kepada anak – anak tentang bagaimana desa dengan segala yang ada di dalamnya. Saya berharap mereka memiliki fantasi keindahan tentang desa dan akhirnya mampu menyanyikan lagu ini dengan ekspresi yang sesuai. Selain berharap mereka memiliki fantasi tentang keindahan desa, saya ingin menanamkan rasa kecintaan terhadap alam negrinya sendiri yaitu Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan yang ada saat ini, saya sangat prihatin, karena anak – anak sekarang ini sangat miskin dengan lagunya sendiri. Mereka tidak memiliki lagu yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Industri musik yang ada sekarang ini, lebih banyak mengarah kepada penciptaan lagu – lagu untuk remaja dan dewasa. Karena kemiskinan lagu tersebut akhirnya anak- anak itu lebih banyak menyanyikan lagu – lagu yang memang belum pas untuk mereka nyanyikan. Anak – anak lebih mengenal group – group band seperti Peterpan, Ungu, Wali, Changcuters, Gigi dan lain – lainnya, daripada pencipta lagu anak – anak seperti, Ibu Sud, AT. Mahmud, Pak Dal dan Ibu – Pak Kasur.

Lagu anak – anak yang sekarang ini seperti berhenti, ada bebarapa yang muncul tapi masih sangat jauh dari harapan. Sepertinya para pencipta lagu takut tidak laku lagunya kalau menciptakan lagu untuk anak – anak. Karena group – group band yang sekarang ini sudah terlanjur dikenal dan digandrungi oleh anak – anak, ada baiknya jika mereka menciptakan satu atau dua buah lagu dalam setiap mengeluarkan albumnya, jika hal ini dilaksanakan saya yakin anak – anak tidak akan miskin lagi dengan lagunya. Semoga……

Selasa, 20 April 2010

KARYAWISATA DALAM PEMBELAJARAN

Karyawisata adalah suatu kegiatan dalam bentuk kunjungan untuk menambah pengetahuan atau wawasan yang bersifat menyenangkan hati. Kegiatan menyenangkan hati ini dapat dimaknai sebagai sebuah aktivitas yang membawa kegembiraan bagi yang melakukannya. Kegembiraan itu sendiri dapat diperoleh jika mau melakukan suatu aktivitas yang kreatif atau aktivitas yang lain dari biasanya. Atau dapat dikatakan juga sebagai keluar dari rutinitas.

Sebagai seorang siswa yang waktunya lebih banyak digunakan untuk belajar di dalam kelas, konteks keluar dari rutinitas dapat diartikan sebagai belajar tidak di dalam ruangan kelas, atau dapat juga belajar tidak di dalam lingkungan sekolah. Belajar yang dilakukan bukan di dalam ruangan kelas atau diluar lingkungan sekolah, dapat membawa pada pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Hal ini dapat dimungkinkan karena rutinitas belajar yang dilakukan siswa, lebih banyak di dalam kelas. Atas dasar itu pula maka kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan di dalam kelas, sekali waktu perlu dilakukan di luar kelas atau di luar lingkungan sekolah. Dengan belajar di luar lingkungan sekolah siswa akan lebih mudah mendapatkan konsep – konsep atau fakta – fakta dalam bentuk yang lebih nyata atau riel. Dan dari hal yang dilakukan tersebut diharapkan tingkat daya serap siswa terhadap suatu materi akan lebih meningkat, karena siswa mengalami langsung. Karena sifatnya yang digunakan adalah, sebagai bagian dari suatu cara untuk menyampaikan materi, maka karyawisata ini digolongkan sebagai sebuah metode pembelajaran.

Mengutip pendapat Wijaya dan Rusyan bahwa Karyawisata sebagai metode pembelajaran memiliki kelebihan – kelebihan diantaranya adalah :

1. Membuat pengalaman edukatif dan pribadi yang bermutu.

2. Membentuk sensorik ( siswa dapat merasakan secara langung peristiwa yang sebenarnya. )

3. Memperdalam pengalaman – pengalaman tentang gejala alam.

4. Menumbuhkan rasa puas terhadap pesertanya.

5. Menumbuhkan minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan dan benda – benda di sekitarnya.

6. Melebur pembelajaran sekolah ke dalam lingkungan yang lebih luas.

Agar kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar lingkungan sekolah ini lebih terarah, tertib, serta meningkatkan keingintauan siswa terhadap materi yang dipelajari dan juga benar – benar terfokus pada materi itu sendiri, tentunya diperlukan suatu perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang sangat diperlukan mengingat karyawisata sebagai suatu metode memerlukan waktu yang lebih lama, pembiayaan yang lebih banyak, dan juga cukup menguras tenaga. Hal – hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan metode karyawisata ini adalah :

1. Perumusan tujuan

2. Waktu pelaksanaan.

3. Tempat pelaksanaan.

4. Besarnya biaya pelaksanaan

5. Sarana dan prasarana penunjang

6. Kegiatan yang akan dilaksanakan

7. Jumlah peserta. ( Siswa, Guru Pendamping dan Satuan Pengamanan )

8. Tingkat keamanan

Secara lebih terperinci dalam karyawisata terdapat tujuan – tujuan lain yang dapat dicapai diantaranya yaitu :

1. Penanaman cinta terhadap seni, budaya dan alam sekitar.

2. Pengenalan sejarah perjalanan bangsa.

3. Penanaman cara – cara pelaksanaan ibadah. ( Sholat jama’ qashar )

4. Pembuatan laporan dalam bentuk cerita dan tertulis.

5. Pengenalan budaya suatu daerah dan acara perpisahan.

Dari berbagai hal yang telah dijelaskan di atas, tentunya peran orang tua murid sangatlah menentukan. Hal yang terpenting adalah kepercayaan orang tua murid dalam memberikan izin kepada putra – putrinya untuk mengikuti kegiatan ini. Selain daripada itu kegiatan karyawisata ini, tidak akan sukses tanpa partisipasi financial dari orang tua murid itu sendiri. Kesimpulan yang dapat diambil dari wacana ini adalah bahwa Karyawisata sebagai suatu kegiatan dalam bentuk kunjungan untuk menambah pengetahuan atau wawasan yang bersifat menyenangkan hati, perlu adanya suatu perencanaan yang matang, dengan menempatkan berbagai tujuan dari berbagai mata pelajaran dan diperlukan adanya kerjasama yang baik antar pihak sekolah dengan orang tua murid.

Tiada gading yang tak retak, demikian suatu peribahasa mengatakan. Dari hal tersebut saya menyadari bahwa sebagai bahan penambah wawasan dan pembelajaran tentunya apa yang saya tulis masih banyak kekurangannya. Untuk itu, saran – saran yang sifatnya menjadikan wacana ini, sebagai bahan wacana yang lebih bermutu tentunya sangat saya harapkan…..

Ciledug, 20 April 2010

Penulis

Suwito, S.Pd