Laman

Sabtu, 12 November 2011

PAK BON

Masih ingatkah dengan istilah Pak Bon? Siapakah dia? Apakah dia orang yang terkenal? Ataukah dia orang yang penting buat kita? Atau mungkin saudara semua sudah tidak ingat lagi siapa itu Pak Bon, atau mungkin juga  tidak tahu sama sekali siapa itu Pak Bon. Apa Pak Bon itu  orang yang rajin nge Bon di kantor yaaaa…? Saya berharap saudara  semua bisa mengenang kembali ke masa – masa waktu bersekolah di SD. Saat kita  pertama kali masuk ke sekolah, dimana orang tua kita dengan setia menunggu kita belajar. Sebagai siswa baru sering kita merasa was – was dimanakah orang tua kita, sehingga saat belajar kita lebih banyak melihat jendela. Seiring berjalannya waktu akhirnya kita berani belajar tanpa ditunggu orang tua. Tetapi ada saat yang mungkin menegangkan dimana kita ingin ke belakang… ada perasaan takut izin kepada guru, ada perasaan takut berjalan sendiri ke kamar kecil yang ada di sekolah, ada perasaan jijik dengan kamr kecil yang dimiliki sekolah hingga kita enggan ke belakang saat keinginan ke belakang itu ada, dan berbagai macam alesan yan membuat kita tidak jadi ke belakang sehingga kadang kita terpaksa justru buang hajat di dalam kelas sambil menangis. Melihat keadaan itu biasanya ibu guru lalu membujuk  dan menasehati kita. Selanjutnya apa ? tidak berapa lama ibu guru memanggil seseorang untuk membersihkan kotoran kita yang ada di dalam kelas. Dan dengan cekatan orang tersebut membersihkan kotoran kita tanpa rasa jijik sekalipun. Begitu juga ketika makanan kita tumpah dengan ketulusan orang tersebut menyapu dan membersihkan meja kita. Saat  pagi – pagi sekali kita datang orang tersebut, sudah ada kita, menyambut kita dengan senyum terindahnya sambil membersihkan halaman sekolah. ya orang itulah Pak Bon. Orang yang banyak jasanya pada saat kita masih bersekolah di SD. Dia lakukan semua pekerjaan yang menuntut tanggung jawabnya untuk selalu menjaga kebersihan sekolah. Sering kita dengar istilah Kebersihan adalah pangkal kesehatan, lalu kita disuruh ibu guru untuk membuat jadwal piket. walau demikian tetap saja Pak Bon mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kenyamanan, kebersihan dan keasrian sekolah kita. Juga saat kita sendiri di tengah keramaian sekolah biasanya Pak Bon mendekati, dan mengajak kita mengobrol tentang apa saja. Begitu juga saat kita terlupa membawa perlengkapan seragam, kita buru – buru mencarinya untuk meminjam apakah ad persiaan topi atau dasi yang dia simpan, dan dengan hati dia meinjamkan perlengkapan tersebut, mhhhh.. maka selamatlah kita dari hukuman bapak atau ibu guru. Kalau kita lihat kenyataan itu,  Dia bukan guru, tetapi banyak yang dilakukannya selalu menunjang,  memperlancar dan membuat suasana yang kondusif dalam belajar kita.  Dia bukan guru, tetapi apa yang dilakukan, selalu menunjukkan bahwa dia seseorang yang berjiwa guru.

Dalam sebuah cerita ada seorang Pak Bon yang sudah cukup tua, walau begitu tidak hilang semangat dan kegesitannya dalam melaksanakan tugasnya. Semua pekerjaan dilakukannya dengan penuh kegembiraan. Pada suatu hari ia bertemu anak baru di sekolah, karena masih menyendiri maka Pak Bon menemani dan mengajakanya mengobrol, dia menanyakan sekolah murid itu sebelumnya, kenapa pindah dan dimana tinggalknya sekarang. Karena masih belum mampu beradaptasi dengan sekolah barunya, anak itu jadi sering ngompol di kelas. Hal itu terjadi karena dia takut untuk minta izin keluar. Maka Pak Bon itupun sering membantunya saat ke belakang, juga menggantikan celananya yang basah karena ompolnya. Sekian puluh tahun kemudian sekolah itu kedatangan seseorang kaya yang mencari – cari Pak Bon tersebut. Ternyata orang kaya itu adalah anak kecil yang sering dibantunya dahulu. Ia datang bukan mencari gurunya tetapi mencari Pak Bon tersebut. Ia datang dengan membawa kabar gembira yaitu ia telah mendaftarkan Pak Bon tersebut sebagai jamaah haji untuk tahun ini.

Apa yang saya ceritakan semoga bisa menjadi pembelajaran bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan, maka lakukanlah pekerjaan itu dengan kesungguhan dan keikhlasan, Insya Allah pekerjaan itu selain mendapat imbalan berupa upah ataupun gaji, juga akan bisa menjadi ladang amal yang suatu saat nanti  pekerjaan itu akan membuahkan sesuatu yang manis.

Minggu, 06 November 2011

DUH LAGUMU NAK..

 

Aku cukup terperajat ketika mendengarkan seorang anak menyanyikan syair lagu, “ ku hamil duluan sudah tiga bulan, gara – gara pacaran tidurnya berduaan. Ku hamil duluan sudah tiga bulan gara – gara pacaran suka gelap – gelapan...” terlihat dia menyanyikan lagu itu dengan sangat gembiranya. Dia mengucapkan kata – kata dalam syair tanpa canggung. Dalam hatiku bertanya duh nak kamu tahu nggak ya isi lagu itu apa. Apakah dia akan segembira itu jika nanti besar benar – benar hal itu menimpanya.

baruuuuYah anak itu tidak tahu makna lagu itu, yang ia dengar adalah alunan musik yang menggerakkannya untuk meniru apa yang dinyanyikan tanpa memahami maknanya. Ia hanya meniru. Musik sebagai bahasa dunia bisa dimengerti dan bisa dipahami oleh semua orang, walaupun dia sendiri tidak mengerti apa maksud atau apa arti dari syair yang ada pada lagu itu sendiri. Sering kita menyanyikan dan mendendangkan lagu – lagu barat yang mungkin lebih banyak tidak tahu arti dari syairnya, tetapi kita sangat menikmati lagu itu, atau bahkan mungkin kita bisa sampai terhanyut oleh alunan lagu tersebut.

Dalam perkembangan seorang anak orang tualah yang mempunyai peran penting dalam mengantarkan anak tersebut hingga mencapai perkembangan yang maksimal baik fisik maupun mental. Selain dari pada itu lingkungan turut pula mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan di sini bisa diartikan sebagai lingkugan tempat tinggalnya dan lingkungan dimana dia bersekolah. Bagi orang tua anak yang berkarir, peran pengawasan  pertumbuhan dan perkembangan anak biasanya digantikan oleh seorang baby sister atau pembantu rumah tangga.

Salah satu fase dalam perkembangan  anak adalah masa meniru apa yang dilihat, dan juga  apa yang didengar. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian  lebih, yang harus diberikan kepada anak pada tahap masa perkembangan tersebut. Pemberian perhatian yang lebih dimaksudkan untuk mencapai perkembangan yang sebaik – baiknya pada anak tersebut, terutama pada pola prilaku dan kepribadiannya. Perhatian yang lebih ini jangan disalahartikan sebagai pemberian ruang lingkup yang terbatas agar tidak terkontaminasi dengan prilaku – prilaku yang tidak semestinya, tetapi harus sebagai upaya agar mereka memiliki kepribadian yang baik.

Sebagai orang tua kita sebaiknya harus memiliki waktu untuk mendampingi anak – anak kita saat mereka menonton televisi, dan kita juga harus mampu memberikan keterangan tentang tayangan yang ditonton bersama itu., dengan demikian seorang anak akan mampu menyerap mana yang pantas untuk dirinya dan mana juga yang tidak baik untuk dirinya. Hal ini juga berlaku apabila anak kita menyukai lagu – lagu yang ada di radio maupun televisi. Banyak lagu yang hanya pantas dinyanyikan oleh orang dewasa, dan sebaiknya kita harus bisa memilihkan lagu yang tepat untuk anak-anak kita. Dengan pemilihan lagu – lagu yang tepat untuk mereka, bisa dijadikan sarana untuk penanaman dan pendidikan budi pekerti.