Sore itu aku mengunjungi sebuah mall yang cukup besar, yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sebenarnya agak malas juga mau kesana, tapi mengingat laptop sudah mulai ngaco kerjanya, ya mau gak mau akhirnya jalan juga. Melihatku memakai jaket yang biasa kupakai jalan, langsung saja istriku ikut. Katanya ingin beli sepatu untuk senam. Aku pun mengiyakan. Dan tak berapa lama sampailah di counter perlengkapan computer yang ada di lantai tiga dari mall itu. Sementara itu istriku langsung masuk ke departement store yang ada di mall itu. Memang counter ini sudah lama menjadi langgananku untuk keperluan akan computer dan laptop yang kumiliki. Seperti biasa pemilik counter itu ramah sekali melayaninya, dengan senyum yang cukup lebar dia menanyakan apa yang bisa dia bantu. Dan setelah perbaikan kecil dari program yang ada, akhirnya aku mengeluarkan kocek sebesar Rp 25.000,00 sebagai imbalan atas jasa perbaikan. Dan dengan senyum yang makin lebar si pemilik counter menerima uang tersebut disertai sorot mata yang menggambarkan rasa terimakasih yang tak terhingga. Mendapat pelayanan yang seperti itu, aku merasa menjadi seseorang yang lebih, klo boleh meminjam istilah dalam bahasa jawa yaitu “diuwongke” . Nah sore itu aku benar – benar merasakannya dengan pelayanan yang diberikan oleh pemilik counter itu. Memang tidak salah aku memilih counter itu buat dijadikan langganan.
Dan dengan perasaan puas yang mendalam aku keluar dari counter itu menyusul istriku yang ada di departemen store. Sesampainya di sana dia belum juga mendapatkan sepatu yang diinginkanya, dari berbagai merek dan harga dia coba berganti – ganti. Sepertinya dia memiliki energi yang lebih untuk jalan mundar – mandir, jongkok berdiri mencoba berbagai merek sepatu. Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya didapatkan juga yang cocok dengan pilihannya. Karena hari itu sedang ada discount, dia beli juga dua pasang sepatu lagi untuk santai. Memang wanita sepertinya mudah tergiur dengan discount.
Akhirnya tiba saat pembayaran di kasir, lumayan juga harus agak antri. Dengan cekatan sang kasir dengan rekan kerjanya yang satu lagi melayani pembeli. Dia ucapkan selamat datang, menanyakan memiliki member atau tidak, dilanjutkan dengan pertanyaan mau dibayar chas atau tidak, lalu mempersilahkan memutar jam pasir untuk menilai tentang kecepatnya melayani pembeli. Setelah menerima pembayaran seharga hampir lima ratus ribu rupiah, dia mengucapkan terimakasih, dilanjutkan dengan mengucapkan ya….yang selanjutnya.
Ada hal yang sangat mengusik di hati atas pelayanan yang diberikan oleh kasir sebuah departement store yang cukup besar itu. Memang dia melayani dengan cukup cekatan, hanya aku merasakan seperti dilayani oleh sebuah robot. Aku katakan demikian karena ada beberapa alasan yang aku liat dari kasir tersebut seperti misalnya :
1. Waktu dia mengucapkan selamat datang, dilakukannya tanpa menatap wajah pembeli, dan ucapan yang diberikan itu dilakukan sambil melakukan hal – hal yang lain. Aku menilai ucapan yang diberikan itu sepertinya hanya sekedar ucapan kewajiban yang harus ia lakukan. Atau dengan kata lain itulah instruksi yang harus dia lakukan kalau melayani pembeli. Alangkah baiknya bila ucapan yang diberikan itu didasari oleh hubungan saling membutuhkan antara pembeli dan penjual, ( dalam hal ini diwakili oleh kasir dari departement store tersebut ) sehingga ucapan yang diberikan akan lebih bermakna.
2. Selanjutnya pertanyaan memiliki member atau tidak, membayar chas atau pakai kartu semua dilakukan dengan lebih banyak menatap ke layar monitor mesin pembayaran. Cara pelayanannya seperti diuber – uber sesuatu agar cepat selesai. Atau dengan kata lain dia takut dengan jam pasir yang dia persilakan untuk diputar, akan habis akan habis lebih dahulu, sementara dia belum selesai melayani.
3. Yang terakhir, ucapan terimakasihnya dilakukan sambil lalu saja. Dan ucapan terima kasih yang diberikan itu juga tidak memiliki makna ( rasa gembira karena mendapat untung, dan dari untung yang didapat itu dia mendapatkan gaji.)
Dari dua kejadian sore itu ada pelajaran menarik yang bisa aku ambil, yaitu bahwa walau cepat, aku tidak mendapatkan pelayanan yang menempatkan pembeli adalah raja, atau kalau istilah itu terlalu tinggi, ya seperti tadi “diuwongke” . Seperti di counter perlengkapan komputer hanya dengan membayar Rp 25.000,00 aku telah mendapatkan pelayanan yang seharusnya didapat oleh seorang pembeli, tetapi dengan membayar 20 kali lipat aku tidak mendapatkannya di departement store tersebut. Menurutku akan lebih berarti kalau pelayanan yang dilakukan, didasari dengan hati seperti yang dilakukan si pemilik counter, bukan karena aturan atau keharusan. Dengan demikian maka setiap pembeli yang datang merasa jadi raja ( memiliki kepuasan yang mendalam ). Jika hal itu sudah dia dapatkan, maka si pembeli itu akan menjadi pelanggan yang setia. Sebagai pelanggan yang setia, tentunya dia tidak akan segan bercerita kepada saudara, tetangga, dan teman – temannya tentang tempat langganannya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar