Laman

Minggu, 25 April 2010

Ya Allah Ampuni Hamba Mu Ini

Aku seperti tersambar petir mendengarnya, keringatku mengucur menganak sungai, dan itu terasa sungguh tak wajar, di daerah perbukitan yang begitu dingin  di tengah malam yang menusuk tulang, keringatku mengucur dengan derasnya. Bayangan kengerian terhampar jelas dalam benakku. Dan kekesalan yang memuncak kepada kakakku berubah menjadi penyesalan yang mendalam. Dan juga terbesit sangkaan yang tak baik kepada Mu ya Allah, menjadi suatu ucapan syukur yang tak terhingga atas musibah itu. Sungguh suatu kejadian yang tak akan mungkin pernah diinginkan oleh semua orang yang di muka bumi ini bila hal itu benar – benar terjadi. Aku terpana mendapati kenyataan seperti itu. Karena aku hanya terdiam, tukang bengkel yang baik hati itu pun menegaskan kembali kepadaku “ Bener pak, kalau as mobil ini tidak pecah, bapak sekeluarga tidak akan selamat  meneruskan perjalanan bapak ini” Aku hanya menjawab dengan terbata – bata “ iya mas, terima kasih sebelumnya…” Lalu tukang bengkel (montir) itu menunjukkan sebuah wadah seperti botol yang terbuat dari plastik, yang letaknya di samping kanan belakang pada bagian mesin mobil Kijang yang kami sewa. Botol itu benar – benar kosong. “ Ini tempatnya minyak rem Pak” katanya “kalau bapak meneruskan perjalanan, tidak sampai 2 km mobil ini pasti remnya blong, padahal di depan tuh jalanya sangat berliku dan banyak jurangnya Pak” lanjut tukang bengkel itu lamudikgi.

Aku baru menyadari apa dibalik kejadian kerusakan yang terjadi pada mobil yang kami sewa. Rupanya Allah menyelamatkan aku dan keluargaku dengan musibah kerusakan pada ban mobil sewaan kami.  Aku yang tadinya agak menggerutu dengan kejadian itu, akhirnya sangat merasa bersyukur dengan musibah itu. Sebenarnya sudah banyak hal yang kurang beres pada mobil itu sebelum keberangkatan kami sekeluarga ke daerah Juana di Jawa Tengah. Waktu kami ambil dari rumah kakak di Pasar Minggu mobil itu berbunyi cukup halus. Aku bertanya kepada kakakku tentang kondisi mobil yang disewa itu. Dengan ringan kakakku menjawab bahwa mobil itu cukup bagus, sudah dicek semua kondisinya oleh pemiliknya yang juga berprofesi sebagai pemilik bengkel mobil. Walau umur mobil itu keluaran tahun 95 dengan latar belakang pemiliknya aku yakin sekali dengan kondisinya.  Ketika mau jalan dan mesin aku bunyikan terdengar suara seperti tembakan pada knalpotnya, wah kenapa lagi dengan mobil ini,  lalu seorang tetangga memberi tahu kalau knalpotnya bocor, tapi itu tidak apa – apa kalau dipergunakan untuk perjalanan jauh, hanya bunyinya saja yang lebih berisik. Dan ketika baru berjalan sekitar 100 meter, ternyata alat pemutar kaca pintu tidak ada pada tempatnya.  Aku terpaksa berhenti dan balik lagi ke rumah apa tadi copot waktu kami membuka pintu mobil itu. Ternyata benar dan alat pemutar itu dapat ditemukan lagi.

Semua itu adalah sebagian kecil gangguan. Yang kenyataannya masih banyak  gangguan – gangguan lainnya yang terjadi selama dalam perjalanan pulang kampung dan selama di kampung  istriku. Aku mau pulang kampung kali ini dengan menyewa mobil karena permintaan anak2 dan istriku yang menginginkan agar bisa banyak jalan2 selama di kampung halaman. Aku pikir tidak salahnya membahagiakan keluargaku. Atas dasar ingin membahagiakan keluargaku itulah aku mantapkan diri untuk pulang kamu dengan menyewa mobil. Aku membawa sendiri mobil itu, walau kakiku belum pulih 100% setelah operasi pasang pen 7 bulan yang lalu. Perjalanan ke kampung lewat jalur pantura yang memakan waktu selama hampir 33 jam karena kemacetan yang luar biasa selama dalam perjalanan,. yang normalnya hanya 10 – 11 jam. Ini benar – benar perjalanan yang berat. Alhamdulillah walau banyak gangguan karena mobil itu sendiri, kita bisa sampai di kampung halaman dengan selamat.

Setelah seminggu di kampung istri kami kembali lagi ke Tangerang, karena ingin berwisata, kami memilih jalur selatan untuk kepulangannya. Anak – anakku ingin melihat Candi Borobudur dan tempat wisata pantai dan juga Gua Jatijajar di daerah Gombong dan aku sendiri ingin mampir di rumah sahabatku di daerah Kutoarjo. Perjalanan menuju Candi Borobudur cukup lancar, walau untuk masuk ke areal Candi Borobudur sangat susah sekali karena padatnya wisatawan. Mobil mulai mengalami gangguan yang lebih serius  ketika aku menuju daerah Purworejo.  Perjalanan menuju Purworejo memang  sudah cukup malam setelah sebelumnya berkeliling – keliling di daerah Magelang. Ban mobil kanan depan berbunyi kletek – kletek, awalnya tidak begitu keras, tapi lama kelamaan bunyinya makin mengganggu. Dan sangat berasa sekali setelah tiba di Daerah Salaman seperti bunyi sesuatu yang rontok. waktu itu jam menunjukkan hampir jam setengah 11 malam.  Di daerah yang cukup sunyi itu tidak ada bengkel lagi. Aku mampir ke Polsek Salaman untuk meminta bantuan. dari seorang Polisi jaga itulah dipanggil seorang montir yang ada di daerah itu. Sang Montir mangajak kami sekeluarga untuk menginap di rumahnya sambil membetulkan kerusakan yang terjadi. Untuk ke rumahnya harus  masuk daerah sedikit berbukit, sekitar 1 km dari Polsek Salaman. Dia memiliki bengkel di depan rumahnya yang ternyata sangat jauh dari jalan besar. Aku heran kenapa kok Dia buka bengkel di tempat yang jauh dari jalan besar. Rupanya dia memang memiliki suatu keyakinan yang kuat, kalau Allah itu Maha Adil pada umatnya, dan rizki itu tidak akan ke mana, walau bengkelnya jauh dari jalan ada saja orang yang meminta tolong untuk memperbaiki kendaraannya. Dia juga sepertinya sangat pandai tentang segala macam mobil.

Karena waktu memang sudah cukup larut malam maka pekerjaan perbaikan itu dihentikan dan malam itu kami semua menginap di rumahnya montir mobil itu. ketika bangun pagi sekitar pukul 04:30 ternyata montir itu sedang sibuk memperbaiki mobil sewaan kami. dia juga memperbaiki banyak hal lain dari tape mobil ,viper, klakson dan lain – lainnya. sekitar jam 09:00 siang semua perbaikan selesai dan kami pun melanjutkan perjalanan. Ucapan terimakasih yang terhingga kepada Mas Montir yang sangat pandai dan baik hati itu kami haturkan sebelum keberangkatan kami. Dan alangkah buruknya kami karena sampai saat ini kami lupa akan nama Sang montir yang baik hati itu.

Dari kejadian itu ada suatu hikmah tersendiri yang aku ambil, ternyata kita kadang ( aku sendiri ) sering mengerutu dan mengeluh atas cobaan kecil yang diberikan Allah kepada kita. Padahal dibalik musibah atau kejadian  kecil itu ada suatu pertolongan besar dari Allah untuk kita.

Ya Allah… ampuni hambamu yang banyak dosa ini………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar