Gadis itu menangis dengan tersedu – sedu, dan air matanya membasahi pipinya. Dengan penuh kesabaran bundanya terus membujuknya agar dapat tenang dan tidak menangis lagi. Sementara itu teman – temannya mengelilinginya dan berharap ia bisa ikut bersama. Rupanya keinginan itu sulit terwujud, karena sang gadis cilik itu makin tidak mau. Ia tidak mempedulikan lagi penampilannya. Make upnya sudah basah oleh air mata. Bajunya yang agak kebesaran sudah tak serapi seperti waktu datang tadi. Itu semua karena rasa takutnya untuk tampil ke atas panggung, dan ia pun terus memeluk ibunya.
Sementara di atas panggung yang dibuat sangat sederhana, dengan berbagai gaya teman – teman dari Sang Gadis tadi menunjukkan aksinya untuk dapat merebut hati para juri agar memilihnya sebagai Gadis Kartini tahun ini. Gaya yang mereka tampilkan masih tampak polos, berjalan dengan agak tergesa – gesa, berhenti sebentar lalu membungkuk ke arah dewan juri sebagai tanda hormat, setelahnya berjalan lebih cepat lagi untuk segera turun ke panggung. Karena ingin buru – buru cepat turun panggung itulah ada beberapa diantaranya yang terjatuh. Dan dengan penuh kebanggaan bunda – bunda mereka menunggunya di pinggir panggung tempat mereka turun. Tak kalah sigap para ayah sibuk mengabadikan peristiwa itu dengan antusias. Banyak kejadian – kejadian lucu yang terjadi di atas panggung. Dari sepatu yang terlepas karena kebesaran, sampai tumpahnya bunga yang seharusnya disebarkan saat peserta itu lewat. Pemandangan itu membuat suasana menjadi lebih riuh. Hal itu terjadi silih berganti hingga semua peserta mendapatkan gilirannya. terakhir dari kegiatan peringatan itu adalah sesi pemotretan bagi yang berminat oleh fotografer yang telah dipesan oleh panitia sebelumnya. Walau kegiatan ini tidak dipaksakan, tetapi peminatnya cukup banyak.
Itulah pemandangan umum yang kita liat setiap diadakan perayaan Hari Kartini. Dengan sedikit pidato yang isinya tentang bagaimana Kartini menolak kungkungan budaya keraton, agar dapat tetap bisa belajar, dan membuat sekolah di lingkungan keraton. Ditambahkan juga dengan himbauan agar kaum wanita bisa lebih maju sejajar dengan kaum pria. Sebuah pidato yang sangat singkat tanpa penekanan secara mendalam hikmah apa yang sebaiknya diambil dari Peringatan Hari Kartini itu sendiri.
Sebagai gadis yang berpandangan maju pada zamannya, Kartini sangat menginginkan peningkatan derajat bagi kaumnya setingkat dengan derajat kaum pria, terutama dalam dalam hal memperoleh pendidikan. Kartini juga adalah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan masyarakatnya yang jauh dari kehidupan yang layak. Ketertindasan, kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan itulah hal – hal yang banyak ia ceritakan melalui surat – surat yang dikirimkan kepada teman – temannya yang kebanyakan adalah orang Belanda. Selain hal itu, ia juga banyak menulis tentang harapan dan cita – cita sebagai perempuan Bumiputera ( Panggilan Belanda pada Bangsa Indonesia ) dan gambaran tentang harapannya itu seperti tertulis di salah satu suratnya yaitu
Daripada mati itu, akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan – tahan. Dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besok akan tumbuh juga dia. Dan hidup makin lama makin kuat makin tegak.
Kita semua mengetahui Kartini sebagai Pejuang Emansipasi Wanita, berkat kerajinannya menuliskan pandangannya tentang kehidupan masyarakatnya, harapan, dan cita – citanya dalam sebuah surat. Seandainya peringatan kali ini diisi dengan semangat menulis sesuatu, mungkin akan lebih banyak yang kita tahu tentang harapan dan cita-cita anak – anak bangsa, daripada hanya sekedar melihatnya berlenggak – lenggok di atas panggung dengan memakai pakaian daerah. Atau dengan kata lain akan lebih bermakna peringatan itu jika diisi dengan mengasah dan menggali sesuatu yang tujuannya mencerdaskan anak bangsa seperti yang dicita-citakan Kartini, daripada hanya menampilkan kecantikan dan keluwesan semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar