" Ojo lali yo le..., mengko nek mulih sekolah, mampiro rene....mengko simbah ngengehi panganan", katanya sambil menyelipkan tembakau di bibirnya. ( sedang nginang ). Iya mbah.. jawabku. Itulah perkenalanku dengan mbah Tukiyah, sekitar Bulan Januari tahun 1974. Beliau adalah adik dari simbahku mBah Ponirah. Waktu itu aku memang belum bisa berbahasa Jawa. Maklum baru sekitar 2 - 3 hari pindah ke Jawa. Sebelumnya aku tinggal dengan orang tuaku di Cilandak Barat Jakarta Selatan. Karena sudah usia sekolah, aku belum juga bersekolah, oleh simbahku Karsongadi ( suami dari mBah Ponirah ) aku dibawa ke kampung untuk di sekolahkan di Desa Majir. Tapi akhirnya aku di sekolahkan di SD Lugu di Desa Lugu karena di SD Majir tidak menerima murid lagi, karena sudah penuh. Perjalanan sekitar 1,5 sampai 2 km aku jalani dengan berjalan kaki yaitu dari Desa Majir wetan ke SD Lugu setiap harinya. Oleh karena itu simbah Tukiyah itu berpesan agar aku mampir dulu setiap pulang sekolah. Dan aku memang selalu mampir. Beliau selalu menyediakan makan dengan sayur duduh tempe, kadang jajanan pasar. aku sangat suka sekali sayur ini. Bahkan aku hanya makan menggunakan kuahnya saja. Sedangkan tempenya aku jambal sambil berjalan pulang ke arah Majir Wetan. Rumah simbah Tukiyah ada di Majir Kulon dekat ratan gede. Jadi rumah mBah Tukiyah itu kira - kira terletak di tengah - tengah antara sekolahku dengan rumah simbah Ponirah di Majir Wetan. Seminggu yang lalu aku dengar simbah Tukiyah dipun pundhut Ingkang Moho Kuwaos. Aku hanya bisa menitikkan air mata mengenangnya. Aku selalu ingat senyumnya yang begitu cerah menyambutku saat pulang sekolah dengan susur yang terselip di bibirnya. Duh...mbah.. nyuwun ngapunten ingkang wayah meniko namung saget dedongo mugo2 sedoyo amal ibadah simbah ing ngalam donyo meniko dipun tampi dening Gusti Allah lan dipun ampuni sedoyo dosonipun simbah...