Laman

Sabtu, 27 November 2010

IBU MEINAR GURUKU

Saat pertama kali 10aku mengenalnya sekitar 1983 adalah saat yang menggembirankan buatku. Beliau inilah yang sering kulihat di televisi ( waktu itu hanya ada Televisi Republik Indonesia ) dan waktu itu pula aku bisa menjadi siswanya. Rasanya seperti diajar oleh seorang artis. dan aku sangat bangga bisa masuk di SPG Negeri 1 Jakarta tempat beliau bertugas sehari – hari. Dalam pandanganku beliau adalah seorang yang disiplin terutama untuk masalah kerapian berpakaian dan ketepatan waktu. Beliau kurang berkenan kalau murid-muridnya datang terlambat keruangannya. Pernah dalam suatu pelajarannya aku hanya belajar dengan sekitar 10 teman. Karena teman – teman yang lain datang terlambat, sehingga oleh beliau tidak diperkenankan masuk ke ruangannya. Cara beliau mengajar dengan perkatan yang lemah lembut inilah yang akhirnya mampu memberikan pencerahan kepadaku tentang pemahaman akan ilmu musik., Dimana sebelumnya, waktu SMP rasanya aku sulit sekali untuk memahami teori – teori musik. Dari cara beliau mengajar inilah sedikit – demi sedikit aku bisa menyukai musik. Dan akhirnya setelah naik ke kelas II, aku mantapkan diri untuk mengambil spesialisasi musik sebagai pilihan dalam penjurusan. Dari mulai tahapan hanya sekedar bisa akhirnya dapat berubah manjadi tahap kecintaan, dan berkat beliaulah aku menjadi  mencintai pelajaran seni musik. Rasa keinginantahuanku terhadap musik selalu beliau penuhi dengan jawaban – jawaban yang sangat mudah kupahami. Karena mungkin melihat tekatku yang besar dalam mempelajari musik, beliau mempercayakan kunci ruangan musik kepadaku. Buatku ini adalah suatu pemberian kepercayaan yang sangat luar biasa. Dalam pandanganku, Ruang Musik di sekolahku itu adalah ruangan yang mewah, yang di dalamnya terdapat berbagai macam alat musik dengan nilai yang mahal untuk ukuran pada saat itu. Dan aku diberi kepercayaan untuk memegang kunci ruangan itu serta diperbolehkan memainkan alat – alat yang aku suka. Rasanya ini seperti hadiah yang sangguh luar biasa dalam hidupku. Dan kepercayaan itu tidak kusia-siakan, yaitu dengan belajar lebih giat lagi waktu mengikuti pelajaran yang beliau berikan, juga banyak menggunakan waktu-waktu luang di sekolah dengan belajar memainkan alat-alat musik yang ada di ruangan musik itu. Dan alat musik yang aku sukai di ruangan itu adalah organ. Jika aku mengalamai kesulitan dengan cara memainkan alat musik itu, ibu Meinar lah yang memberi petunjuk bagaimana cara bermainnya. Dari seringnya menggunakan waktu luang untuk bermain musik di ruang musik itulah, aku memiliki ketrampilan yang lebih dalam hal bermain organ, dan dari ketrampilan ini pula yang kini aku jadikan sebagai senjata andalanku dalam melaksanakan tugasku sehari-hari sebagai guru musik di SD Islam Al Hasanah Ciledug Kota Tangerang. Terakhir aku berjumpa beliau pada waktu halal  bihalal Hari Raya Idhul Fitri 1430 H. Kini aku hanya dapat berdoa semoga kesehatan selalu bersamanya dan kebahagiaan melingkupi di hari – hari tuanya. Terimakasih ibu Meinar atas segala ilmu yang telah  ibu berikan, dan hanya Allah SWT lah yang akan membalas segala jasa dan jerih payah yang ibu berikan untuk kami dan teman - teman….

Selasa, 02 November 2010

KARTU ASKESKU

Melihat gambarnya di kartu berwarna kuning yang berukuran 5,5 cm x 8,5 cm pikiranku terus melayang tentang masa depan yang lebih terjamin untuk masalah kesehatan. Aku merasa tidak perlu lagi memikirkan masalah biaya pengobatan yang sekarang ini melambung jauh tinggi ke awan. Jika memiliki keluhan kesehatan sedikit saja aku bisa langsung datang ke rumah sakit yang melayanai ASKES, terbayang sudah perawat - perawat yang manis dan ramah, dokter - dokter yang cermat dan penuh perhatian dengan segala keluhan- keluhan yang akan aku bicarakan. Dan dengan wajah yang menenteramkan selalu memberikan solusi yang terbaik buat alternatif pengobatan yang terjangkau buatku. Itu semua dilakukan di dalam suatu ruangan yang sejuk , bersih dan wangi. Karena fantasiku itu aku untuk beberapa lama menimang - nimang kartu itu, mIMG_6083engamatinya dengan penuh perhatian, membalik-balikannya dengan hati - hati, karena takut kalau kartu ini ada lipatannya ataupun rusak. Wah rasanya bahagia sekali bisa memiliki kartu yang bisa menjamin akan kesehatan jika kita mengalami musibah ataupun mendapat rizki dari Allah berupa sakit. Apalagi kalau melihat prinsip Perusahan yang menerbitkan kartu berwarna kuning itu yaitu Prinsip Customer Focused Company yang artinya memberikan pelayanan prima kepada seluruh customer, baik eksternal, maupun internal. Rasa2nya aku berani membusungkan dada sambil berkata "Hayo sini.. penyakit apa yang berani datang padaku, pasti aku tumpas karena aku punya senjata yang ampuh " KARTU ASKES".
We ladalah... ampuh tenan aku.....sekti mondro guno aku...
Walau begitu sejujurnya aku berharap tidak untuk menggunakannya. Karena deng an tidak menggunakannya itukan berarti Aku dan keluargaku selalu dalam keadaan sehat wal'afiat. tetapi manusia itu hanya punya keinginan, sedangkan ketentuan Allah SWT lah yang memiliki Nya. Tiba suatu saat... ujian itu datang, Allah memberikan rizki berupa sakit lewat putriku. Dengan prinsip setiap penyakit ada obatnya, dan berbekal senjata KARTU ASKES datanglah aku ke Puskesmas untuk minta surat rujukan. Puskesmas yang kudatangi itu tidak begitu besar, tapi setiap hari penuh dengan warga masyarakat yang ingin berobat. Bahkan sebelum buka yaitu pukul 08.00 sudah banyak yang antri. Mereka katanya datang dari pukul 07.00 supaya bisa dapat pelayanan yang pertama. Aku ikut berdesak-desakan dengan warga yang lain. Tapi ternyata aku salah. Yang berdesak-desakan itu mereka yang berobat non ASKES. sedangkan yang ASKES mendaftar di ruangan tersendiri. Akhirnya aku bisa mendapatkan surat rujukan tersebut tanpa sepeserpun uang keluar dari kantong. Wah senjataku bener-bener ampuh.
Sorenya dengan gagah perkasa kuajak putriku berobat di sebuah rumah sakit yang melayani askes. Sampai di sana masih sepi karena aku mendaftar pukul 5 sore kurang. Aku yakin aku pasti mendapat yang pertama. Karena dokternya dateng setelah maghrib maka kuajak putriku untuk makan sore di warung yang ada di sekitar rumah sakit itu sambil menunggu dokter. Singkat cerita aku sudah selesai makan dan sholat maghrib maka aku menuju ruang tunggu... setelah di ruang tunggu beberapa saat kok putriku tidak dipanggil-panggil malah pasien yang lain yang keluar masuk ruang praktek dokter. karena heran aku ke suster penjaga menanyakan putriku itu no urut berapa. lalu diberi jawaban bahwa putriku no urut 9. Aku protes dengan mengatakan bahwa aku mendaftar dari sekitar jam 5 kurang kenapa bisa no urut 9. Suster tersebut tidak bisa menjawab hanya malah menyuruhku untuk duduk di ruang tunggu saja. Aku bertanya- tanya ada apa ini.. dengan sedikit rasa kesal dan lama menunggu akhirnya tiba giliran putriku diperiksa, hasil diagnosa dokter mengharuskan putriku untuk diperiksa di Lab. Hasil uji akan diberikan seminggu kemudian, dan aku diberikan kwitansi yang harus dibayar. Di dalam kwitansi tertulis 3 item dengan tulisan yang telah dibayar sekian - sekian - sekian dengan jumlah hampir mendekati 500 ribu. aku berfikiran tenang sudah dibayar oleh ASKES. Tetapi sesampai di kasir jumlah itulah yang harus aku bayar. aku protes lagi ke kasir karena di kwitansi tertulis telah dibayar. karena aku terus bertanya akhirnya aku diminta kembali ke Lab. untuk minta penjelasana tentang pembayaran. Ketika di Lab. petugasnya tidak mau menjelaskan karena itu tugas kasir. Aku balik lagi ke kasir, ya kembali lagi aku ngotot kan kalimatnya tertulis sudah dibayar, akhirnya kemanisan wajah kasir itu hilang, sambil sedikit ngotot dia mengatakan bapak sudah dibayar askes dan ini sisanya yang harus saya bayar. aku tanya lagi kenapa rinciannya begini. aku hanya minta penjelasan berapa sebenarnya pembayaran untuk 3 item yang dilakukan di Lab. lalu berapa % nya yang dibayar oleh ASKES, nah jadi sisanya aku kan jelas berapa harus membayar. Karena permintaanku itu si kasir menyuruhku lagi untuk ke Lab. Wah ternyata hari itu aku diputer2 hanya karena pingin tau rincian secara seharusnya. Dengan jumlah yang harus aku bayarkan itu, rasanya KARTU KUNINGKU itu tidak sakti lagi. Lebih sedih lagi waktu itu aku hanya membawa uang 200 ribu. Akhirnya aku telpon istri untuk membawa uang apa saja yang ada untuk menutupi kekurangannya. Aku baru sadar ternyata dengan kartu ASKES itu aku hanya bisa mendapatkan antrian yang jauh di belakang walau sudah mendaftar dari pertama, dan juga tidak mendapatkan transparansi tentang jumlah sebenarnya yang harus dibayarkan oleh anggota ASKES sepertiku. Padahal kalau melihat prinsip perusahaan pembuatnya yang berbunyi Customer Focused Company, sangat jauh dari harapan. Yah mungkin orang kecil memang itu jatahnya..