Laman

Senin, 31 Oktober 2011

METROMINI DAN KOPAJA

Metromini01Mungkin apa yang akan saya tuliskan ini adalah suatu permasalahan yang basi, karena hal ini sudah banyak ditulis dan dibahas diberbagai media baik cetak maupun elektronik. Tetapi saya masih nekat juga menulis permasalahan yang membosankan ini karena saya melihat belum ada suatu perubahan yang berarti di lapangan. Pengalamanku sekian tahun menikmati transportasi ini rasanya sebagai manusia kita makin tidak dihargai. Kita tidak dihargai sebagai seseorang yang memberikan imbalan, atas jasa yang diberikan oleh alat tranportasi ini. metro1Bagi saya dan mungkin orang – orang yang memiliki kemampuan ekonomi setingkat dengan saya, hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang ada. Pasrah dan ketidakberdayaan menerima atas pelayanan yang diberikan. Karena saya secara pribadi belum berani mencari pengganti  yang layak pakai dan lebih manusiawi dalam urusan transportasi sehari - hari. Hal yang pertama yang kita temui saat menggunakan tranportasi ini adalah, tempat duduk. Tempat duduk yang tertata di dalamnya sungguh – sungguh tidak memberikan ruang kenyamanan untuk kaki. Jika kita duduk dengan sikap yang normal, maka dengkul kita akan mengenai tempat duduk yang di depannya mmyang kalau kita tetap nekat dengan sikap duduk normal maka, tidak berapa lama dengkul kita akan sakit karena seperti terjepit. Jadi kalau ingin tidak sakit ( bukan nyaman ) maka kaki, kita posisikan miring. Dengan posisi miring ini maka kaki kita akan bersentuhan dengan penumpang lain. Hal ini akan mengganggu penumpang di sebelah kita. Kalau kita sebagai penumpang pertama ( pagi – pagi sekali ) celana kita menjadi semacam lap untuk tempat duduk yang kita duduki. Hal ini terjadi karena bis jarang dibersihkan. Mungkin supir dan kernet memang sengaja membiarkan karena kalau sering diduduki lama – lama bangkunya juga bersih sendiri. Selanjutkan adalah ruangan dalam bis yang memang selalu kotor dan terkesan kumuh…..biasanya banyak bekas oli di bodi bis bagian dalam. Hal ini juga membuat bau ruangan tidak sedap. Ini kenyataan yang harus diterima oleh sebagian besar masyarakat ekonomi bawah, semua itu karena karena keterbatasan kemampuan ekonomi. Itu bagian dalam bis itu sendiri, bagaimana dengan bagaian luar bis? tidak jauh berbeda. Bagian luar yang banyak dempulnya, sudah bayak karat di sana – sini, lalu asap yang dikeluarkan sangat hitam perkat dan suara bis yang sangat bising. Sangat – sangat jauh dari kelayakan untuk kota Jakarta yang sudah menjadi Kota Megapolitan. Yang selanjutnya juga Si supir dan kernet itu sendiri. Banyak diantara mereka yang hanya sebagai sopir tembakan ( supir pengganti yang belum tentu memiliki SIM ). Sopir dan kernet sering menggunakan busana apa adanya, mereka jauh dari sikap sebagai pelayan jasa. Apalagi kalau pagi hari banyak sopir dan kernet yang tidak mandi. Mungkin tulisan saya yang satu ini agak terlalu, tetapi itu kenyataan yang saya alami. Banyak kernet yang meminta ongkos dengan sikap yang kasar.

Bagaimana pengoperasian kendaraan ini? Kalau mereka jauh dari bis yang lain makanya jalannya seperti keong. Sungguh lambat sekali, tetapi begitu terlihat bis sejurusan di belakangnya maka bis itu akan melaju seperti cheetah. Dan dengan kecepatan yang demikian mereka menaikkan dan menurunkan penumpang semaunya, bahkan lebih banyak di tengah jalan dari pada di pinggir jalan. dari uraian ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa Metro Mini dan Kopaja atau kendaraan yang sejenis :

1. Tidak layak sebagai alat transportasi.

2. Sopir dan kenek tidak pantas dalam memberikan jasa pelayanan.

3. Cara sopir mengoperasikan kendaraan ini sangat ugal – ugalan dan tidak mematuhi aturan berlalu – lintas.

4. Membahayakan penumpang dan pengguna jalan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar