Laman

Jumat, 28 Oktober 2011

MY HOBBY

ME 6

Tidak ada yang istimewa dari foto pribadiku yang ku tampilkan di blog ini. Hanya sebuah foto biasa dengan sedikit efek dari photoshop dan background sebuah Violin. Yang menjadi pertanyaan  mengapa violin, bukan yang lainnya? Aku bisa saja mengambil latar belakang bangunan yang megah ataupun suatu obyek wisata tertentu yang kalau dilihat secara sekilas terkesan kalau aku sedang berlibur ataupun sedang jalan – jalan. Yah memang violin… Violin ini aku ambil sebagai perlambang dari hobbyku yang sejak kecil memang menyenangi musik. Sebenarnya aku tumbuh bukan dari kalangan keluarga pecinta musik. Hampir tidak ada satu alat musikpun yang dimiliki oleh keluargaku, juga tidak ada peralatan apapun yang dapat dipergunakan untuk memperdengarkan musik. Sejak umur setahun hingga menginjak tujuh tahun aku tinggal di daerah Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Sekitar tahun 70an penduduk daerah itu belum mendapatkan layanan listrik. Sebagian dari daerah itu masih berbentuk hutan karet dan  persawahan. Jalan desa yang ada masih berbentuk tanah. Radio telah banyak dimiliki oleh penduduk di daerah itu. Namun orang tuaku sendiri belum memilikinya. Maklumlah pekerjaan orang tuaku hanya sebagai tukang kayu, yang kalau lagi mendapat borongan membuat rumah, atau peralatan rumah barulah memiliki uang, kalau tidak ya menganggur. Televisi hitam putih hanya dimiliki beberapa gelintir orang yang bisa dinikmati dengan mempergunakan aki. Jadi dengan kondisi di daerah seperti itu tidak ada sesuatupun  yang memotivasi  diriku untuk mencintai musik, baik itu hanya sekedar mendengarkan lagu maupun bermain alat musik. Akhir tahun 1973 aku diboyong oleh kakekku ke desa dimana ayahku dahulu dilahirkan, yaitu tepatnya di desa Majir Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ternyata daerah inipun masih sangat terbelakang. Di tempat kakekku praktis tidak ada hiburan sama sekali. Yang menjadi hiburanku hanya suara – suara alam, seperti gasir, belalang daun, jangkrik dan kodok jika musim penghujan. Dari kesemua itu yang paling aku suka adalah jangkrik. Suara jangkrik adalah suara kedamaian. Aku katakan demikian karena jangkrik hanya mau berbunyi jika suasana tenang. Jika terdengar suara yang lain olehnya dia akan berhenti berbunyi. dan dia baru akan berbunyi kembali jika dianggap bunyi yang ada itu tidak membahayakannya. Makanya kita akan merasa tentram dan damai jika mendengar suara jangkrik.

Kapan hobi musikku tumbuh? itu terjadi sekitar tahun 1977, saat itu aku duduk di kelas IV SD. Waktu itu di sekolahku kedatangan seorang guru baru. Beliau benar – benar masih muda, waktu itu beliu berumur sekitar 19 – 20 tahunan. Umur yang masih cukup muda untuk seorang guru di kala itu. Aku tahu umur beliau karena beliau sendiri yang bercerita . Nama beliau adalah Tito Sungkono. Aku sendiri tidak tahu apa makna dari namanya. Yang aku tahu dari beliau adalah orangnya supel, menyenangkan, dan pandai sekali menarik perhatian murid-muridnya. Sejak itulah aku suka sekali dengan sosok guruku ini. Kebetulan beliau mendapatkan rumah dinas  di lingkungan sekolah. Dan rumah kakekku tidak jauh dari sekolah. Oh ya aku lupa menceritakan sejak aku duduk di kelas IV itu rumah kakeku pindah ke desa Lugu. Oleh karena itu aku sering bermain di sekolah dan menemani guruku sehari – hari. kadang aku suka bantu – bantu beliau dari menank nasi hingga mencuci pakaiannya. Kadang aku suka merasa aku seperti anaknya walaupun beliau ini masih bujangan. Dari kedekatan dengan guruku inilah aku mulai mengenal musik. Menurutku beliau adalah guru yang multi talenta. Beliau pandai bermain guitar, pandai menggambar, pandai menyanyi, pandai menari, pandai mocopat ( tembang jawa kuno ) pandai bermain karawitan, pandai mengarang, pandai membuat skenario drama. Dari beliau aku diajarkan apa – apa yang beliau kuasai. Dari sekian banyak ketrampilan yang beliau ajarkan yang paling kusuka adalah bermain musik terutama gitar. Karena beliau orang yang ramah, banyak juga pemuda desa Lugu yang bermain ke rumah dinasnya, beberapa  pemuda suka ada yang membawa gitar waktu bermain dan suka menitipkannya di rumah guruku ini. Dari hal itu lah beliau di waktu senggangnya mengajarkan beberapa chord guitar kepadaku. Kecintaan bermain guitar terus berlanjut hingga aku bersekolah di SMP Negeri 1 Kutoarjo. Kebetulan banyak teman-teman yang memiliki guitar, dan aku sering meminjamnya secara bergiliran. Aku mulai trampil bermain guitar walau aku sendiri tidak memiliki guitar, modalnya ya hanya meminjam ke teman – teman. Kemampuan bermain gitar ini menjadi dasar untuk mengenal alat musik yang lain. Dan ketika lulus dari SMP aku pindah ke Jakarta mengikuti orang tuaku kembali. Aku masuk ke SPG Negeri 1 Jakarta dan mengambil jurusan SD dengan spesialisasi musik. Dan hobi musikku inilah yang sekarang mengantarkan aku  menjadi seorang guru musik di sebuah SD Islam di daerah Ciledug, Tangerang.

3 komentar:

  1. wahhhhhh,...terimakasih sekali atas cerita yang mungkin sedikit membuat saya merinding karena saya teringat akan ayah saya tapi jujur saya justru bangga dengan mas karena mas masih mau mengingat Alm ayah saya, padahal mas sudah lama tidak bertemu dengan beliau.

    BalasHapus
  2. SD ISLAM AL HASANAH

    BalasHapus
  3. PASTI SANGAT KENAL ESTI PHEYEX, SING GAWENE WA AWAKMU

    BalasHapus