Laman

Selasa, 02 November 2010

KARTU ASKESKU

Melihat gambarnya di kartu berwarna kuning yang berukuran 5,5 cm x 8,5 cm pikiranku terus melayang tentang masa depan yang lebih terjamin untuk masalah kesehatan. Aku merasa tidak perlu lagi memikirkan masalah biaya pengobatan yang sekarang ini melambung jauh tinggi ke awan. Jika memiliki keluhan kesehatan sedikit saja aku bisa langsung datang ke rumah sakit yang melayanai ASKES, terbayang sudah perawat - perawat yang manis dan ramah, dokter - dokter yang cermat dan penuh perhatian dengan segala keluhan- keluhan yang akan aku bicarakan. Dan dengan wajah yang menenteramkan selalu memberikan solusi yang terbaik buat alternatif pengobatan yang terjangkau buatku. Itu semua dilakukan di dalam suatu ruangan yang sejuk , bersih dan wangi. Karena fantasiku itu aku untuk beberapa lama menimang - nimang kartu itu, mIMG_6083engamatinya dengan penuh perhatian, membalik-balikannya dengan hati - hati, karena takut kalau kartu ini ada lipatannya ataupun rusak. Wah rasanya bahagia sekali bisa memiliki kartu yang bisa menjamin akan kesehatan jika kita mengalami musibah ataupun mendapat rizki dari Allah berupa sakit. Apalagi kalau melihat prinsip Perusahan yang menerbitkan kartu berwarna kuning itu yaitu Prinsip Customer Focused Company yang artinya memberikan pelayanan prima kepada seluruh customer, baik eksternal, maupun internal. Rasa2nya aku berani membusungkan dada sambil berkata "Hayo sini.. penyakit apa yang berani datang padaku, pasti aku tumpas karena aku punya senjata yang ampuh " KARTU ASKES".
We ladalah... ampuh tenan aku.....sekti mondro guno aku...
Walau begitu sejujurnya aku berharap tidak untuk menggunakannya. Karena deng an tidak menggunakannya itukan berarti Aku dan keluargaku selalu dalam keadaan sehat wal'afiat. tetapi manusia itu hanya punya keinginan, sedangkan ketentuan Allah SWT lah yang memiliki Nya. Tiba suatu saat... ujian itu datang, Allah memberikan rizki berupa sakit lewat putriku. Dengan prinsip setiap penyakit ada obatnya, dan berbekal senjata KARTU ASKES datanglah aku ke Puskesmas untuk minta surat rujukan. Puskesmas yang kudatangi itu tidak begitu besar, tapi setiap hari penuh dengan warga masyarakat yang ingin berobat. Bahkan sebelum buka yaitu pukul 08.00 sudah banyak yang antri. Mereka katanya datang dari pukul 07.00 supaya bisa dapat pelayanan yang pertama. Aku ikut berdesak-desakan dengan warga yang lain. Tapi ternyata aku salah. Yang berdesak-desakan itu mereka yang berobat non ASKES. sedangkan yang ASKES mendaftar di ruangan tersendiri. Akhirnya aku bisa mendapatkan surat rujukan tersebut tanpa sepeserpun uang keluar dari kantong. Wah senjataku bener-bener ampuh.
Sorenya dengan gagah perkasa kuajak putriku berobat di sebuah rumah sakit yang melayani askes. Sampai di sana masih sepi karena aku mendaftar pukul 5 sore kurang. Aku yakin aku pasti mendapat yang pertama. Karena dokternya dateng setelah maghrib maka kuajak putriku untuk makan sore di warung yang ada di sekitar rumah sakit itu sambil menunggu dokter. Singkat cerita aku sudah selesai makan dan sholat maghrib maka aku menuju ruang tunggu... setelah di ruang tunggu beberapa saat kok putriku tidak dipanggil-panggil malah pasien yang lain yang keluar masuk ruang praktek dokter. karena heran aku ke suster penjaga menanyakan putriku itu no urut berapa. lalu diberi jawaban bahwa putriku no urut 9. Aku protes dengan mengatakan bahwa aku mendaftar dari sekitar jam 5 kurang kenapa bisa no urut 9. Suster tersebut tidak bisa menjawab hanya malah menyuruhku untuk duduk di ruang tunggu saja. Aku bertanya- tanya ada apa ini.. dengan sedikit rasa kesal dan lama menunggu akhirnya tiba giliran putriku diperiksa, hasil diagnosa dokter mengharuskan putriku untuk diperiksa di Lab. Hasil uji akan diberikan seminggu kemudian, dan aku diberikan kwitansi yang harus dibayar. Di dalam kwitansi tertulis 3 item dengan tulisan yang telah dibayar sekian - sekian - sekian dengan jumlah hampir mendekati 500 ribu. aku berfikiran tenang sudah dibayar oleh ASKES. Tetapi sesampai di kasir jumlah itulah yang harus aku bayar. aku protes lagi ke kasir karena di kwitansi tertulis telah dibayar. karena aku terus bertanya akhirnya aku diminta kembali ke Lab. untuk minta penjelasana tentang pembayaran. Ketika di Lab. petugasnya tidak mau menjelaskan karena itu tugas kasir. Aku balik lagi ke kasir, ya kembali lagi aku ngotot kan kalimatnya tertulis sudah dibayar, akhirnya kemanisan wajah kasir itu hilang, sambil sedikit ngotot dia mengatakan bapak sudah dibayar askes dan ini sisanya yang harus saya bayar. aku tanya lagi kenapa rinciannya begini. aku hanya minta penjelasan berapa sebenarnya pembayaran untuk 3 item yang dilakukan di Lab. lalu berapa % nya yang dibayar oleh ASKES, nah jadi sisanya aku kan jelas berapa harus membayar. Karena permintaanku itu si kasir menyuruhku lagi untuk ke Lab. Wah ternyata hari itu aku diputer2 hanya karena pingin tau rincian secara seharusnya. Dengan jumlah yang harus aku bayarkan itu, rasanya KARTU KUNINGKU itu tidak sakti lagi. Lebih sedih lagi waktu itu aku hanya membawa uang 200 ribu. Akhirnya aku telpon istri untuk membawa uang apa saja yang ada untuk menutupi kekurangannya. Aku baru sadar ternyata dengan kartu ASKES itu aku hanya bisa mendapatkan antrian yang jauh di belakang walau sudah mendaftar dari pertama, dan juga tidak mendapatkan transparansi tentang jumlah sebenarnya yang harus dibayarkan oleh anggota ASKES sepertiku. Padahal kalau melihat prinsip perusahaan pembuatnya yang berbunyi Customer Focused Company, sangat jauh dari harapan. Yah mungkin orang kecil memang itu jatahnya..

2 komentar:

  1. Ndherek prihatin, Mas.

    Semoga Gusti Allah dengan segala kuasaNya berkenan mengangkat penyakit putri Mas Wito.
    Semoga secepatnya putri Mas Wito sehat kembali, beraktivitas dan beribadah seperti semula. Amin.

    Bintoro

    BalasHapus
  2. Injih Mas Bin... matur nuwun sanget bantuan doanya... Ini yang membuat aku bersemangat untuk mencari berbagai pengobatan buatnya. Alhamdulillah sekarang gadisku berangsur-angsur sudah sehat kembali....

    BalasHapus