Homesick adalah sesuatu yang sering timbul bila kita jauh di perantauan. Suatu perasaan di mana kita selalu terbayang akan kampung halaman. Yang biasa kita rasakan adalah suasana keindahan tentang kampung halaman kita. Mulai dari tempat main, tempat berkumpul, tempat makan, dan tempat – teman kenangan terindah pada masa pertumbuhan kita. Tanah, air, udara yang ada di dalamnya yang telah turut serta dalam membentuk fisik kita, mulai dari kita masih dalam buaian bunda tercinta hingga kita meninggalkannya, demi kehidupan dan masa depan yang akan kita rintis. Aliran sari - sari tanah, air dan udara yang telah menyatu dalam tubuh kita itulah yang memompakan perasaan ingin selalu kembali ke tanah kelahiran di mana kita dibesarkan. Oleh karena itu bagi banyak orang, walau mereka telah sangat sukses dalam kehidupannya di perantauan, kecintaan terhadap tempat kelahirannya takkan hilang dari dalam sanubarinya.
Oleh sebagian orang, perasaan yang demikian ini hanya bisa jadi angan – angan semata. Ada berbagai hal yang menyebabkannya seperti, malu karena belum sukses di perantauan, atau juga karena memang tidak adanya biaya yang mencukupi untuk mengobati perasaan yang ada itu dengan kembali ke kampung halaman, atau biasa kita sebut dengan istilah mudik. Sebagai orang yang pergi meninggalkan kampung halaman, mudik adalah sesuatu hal yang sangat diharapkan. Tetapi untuk mencapainya perlu suatu biaya yang tentunya tidak sedikit. Biaya – biaya yang diperlukan itu tidak hanya ongkos pulang pergi semata, tetapi juga biaya untuk makan selama pulang kampung. Biasanya kalau kita pulang kampung, kita memberikan sedikit rizki yang kita peroleh selama di perantauan ( tempat tinggal kita sekarang ) untuk sanak saudara kita. Jika kita pulang ke rumah orang tua, maka selama kita di sana seluruh biaya hidup sehari – hari, kitalah yang memanggungnya. Hal ini untuk menunjukkan rasa bakti kita kepada orang tua, juga secara tersembunyi untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih baik di perantauan ( walaupun dalam kenyataannya tidak demikian ) Hal ini rasanya perlu dipersembahkan kepada orang tua, agar orang tua yang kita tinggalkan di kampung halaman itu memiliki ketenangan hidup, karena putra – putrinya telah memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika kita pulang ke kampung alanglah sangat baik jika kita membahagiakan ora ng tua kita. Jadi sebaiknya pulang kampungnya kita itu jangan sampai membebani pikiran dan perasaan orang tua kita sendiri. Dari hal tersebut maka bisa kita bayangkan, bahwa pulang kampung untuk mengobati homesick kita itu memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Lagu Mars Kutoarjo Memanggil adalah sebuah lagu tentang tata kehidupan masyarakat di sebuah kota kecil di daerah Jawa Tengah tepatnya di wilayah Kabupaten Purworejo. Kutoarjo adalah sebuah wilayah kecamatan dengan 27 Desa/Kelurahan dengan luas wilayah hampir 38 km2. Lagu ini berisi ajakan kepada masyarakat di wilayah kecamatan Kutoarjo itu sendiri, juga warga masyarakat Kutoarjo yang ada di perantauan untuk bahu membahu membangun wilayahnya. Lagu ini diciptakan oleh musisi muda berbakat dari Kutoarjo yang bernama Joko Setyoko. Lagu pengobar semangat ini diinspirasikan oleh kecintaan si pencipta lagu akan kota kecil tempat kelahirannya tersebut. Pada video yang ada di Group Paguyuban Wong Thorjo di Facebook, Lagu tersebut diaransemen dalam format Tenor, Bariton, Bass dan dibawakan oleh kelompok vokal dari PAGUYUBAN WONG THORJO. Harapan terbesar dari pembuatan lagu ini adalah agar dapat mempersatukan semua elemen masyarakat Kutoarjo baik yang tinggal di wilayah itu maupun yang ada di perantauan untuk bersama sama membangun Kutoarjo menjadi suatu wilayah yang sejahtera, ayem tentrem serta mandiri.
Bagi kaum perantauan asal Kutoarjo, paling tidak lagu ini dapat membangkitkan motivasi untuk bekerja keras di bidangnya masing – masing, dan mampu kembali ke kampung halaman sebagai orang yang telah memiliki kehidupan yang lebih baik serta dapat dijadikan obat pengobat kerinduan akan keindahan kota Kutoarjo bagi yang belum mampu atau belum sempat mudik. Selain daripada itu juga dapat memiliki kebanggaan tersendiri sebagai bagian dari masyarakat Kutoarjo.
Mas, tulisan sampeyan ini bagus, informatif, enak dibaca, dan menambah rasa kangen dan keinginan berbuat sesuatu untuk Kutoarjo, apalagi sambil mendengarkan lagunya yang mengobarkan semangat itu.
BalasHapusMembaca tulisan sampeyan ini, lha mbok kalau dimungkinkan secara periodik diterbitkan semacam majalah/kalawarti tentang Kutoarjo untuk konsumsi dan pengobat rindu sedulur2 yang golek pangan diluar Kutoarjo.
Salam
Tulisan yang menarik, juga komentar yang menarik... Lha mbok iyo...ayo diwujudke.
BalasHapusMatur nuwun Mas Bin lan Om Anonim ( mbok ojo nganggo anonim ben luwih akrab )
BalasHapus