Waktu pertama melihat foto ini di FB..sungguh aku sangat terharu sekali. Tak dapat terkatakan perasaan yang ada.. Keterharuanku yang amat sangat itu karena rumah ini telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupanku. Masa kecilku sebagian besar kuhabiskan di rumah ini. Masa dimana penuh dengan keceriaan, kegembiraan, dan belajar berbagai macam hal. Belajar mengenal tentang tentang hidup dan kehidupan. Belajar mengenal alam dan lingkungan. Belajar bersosialisasi dengan warga di sekitar. Kesemuanya itu adalah berkat kesabaran dan kegigihan simbah dalam mengasah, mengasih dan mangasuhku sehari – hari. Simbahku bukanlah seseorang yang memiliki kedudukan penting di desanya. beliau hanyalah seorang petani biasa. Jadi penghidupan kakekku saat itu memang sangat tergantung sekali dengan hasil panen yang ada. Hal ini benar-benar aku rasakan bagaimana kehidupan seorang petani. Pernah di sekitar tahun 1978 waktu itu seluruh tanaman padi para petani mengalami gagal panen karena serangan hama wereng. Dan tahun itu menjadi tahun yang paling menyulitkan bagi para petani. Beras menjadi sesuatu yang berharga dan sangat mahal. Sedangkan hal itu menjadi kebutuhan pokok. Sebagai seorang petani yang penghasilannya hanya mengandalkan hasil panen, sungguh sulit mengahadapi keadaan pada saat itu. tetapi hidup harus berlangsung, dan kehidupan harus diperjuangkan. untuk kesemuanya itu keluarga simbah sangat mengandalkan tanaman pisang yang ada. Pisang – pisang yang biasanya dimakan kalau sudah matang, kali ini terpaksa dimakan dalam keadaan masih hijau. Pisang itu dikupas dan direbus, setelah direbus ditumbuk dengan sedikit garam dan dicampur kelapa parut. Dan itulah makanan kami sehari-hari dalam menghadapi musim yang sulit. Karena sulitnya dan mahalnya beras simbah hanya mampu menyediakan nasi kalau sore hari ( malan malam ). Itupun simbah harus membagi dengan adil untuk kami semua. Untuk itu maka simbah membagi nasi dalam piring-piring sebanyak anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga mendapat jatah satu piring nasi yang sama. Dan sebagai seorang anak yang masih dalam masa pertumbuhan jatah ini dirasa kurang, maka agar merasa sedikit kenyang kami nambah makan dengan makan kerak nasi. Yang paling nikmat menurutku adalah kerak nasi yang masih baru lalu disiram dengan sayur yang ada. Kenikmatan itu memang sangat terasa karena faktor kesulitan makanan,bukan karena faktor olahan. jadi makan nasi lengkap dengan sayurnya adalah susuatu yang sangat nikmat ( mak nyusss istilah sekarang ) di kala itu.
Di sini simbah juga sering mengajarkan silsilah keluarga dan bagaimana aku harus memanggil atau menyebutkan sesorang dengan sebutan yang pas untuk saudara-saudara simbah. Seperti Misalnya mBah Karyo, mBah Citro, Lek Ponidi, mbah Bingah, Lek Saroso dan lain-lainnya. Dan yang paling berkesan adalah simbah sering mengajakku ke tempat saudara-saudaranya yang tinggalnya masih di desa Lugu dan sekitar. Kesemuanya itu agar aku mengerti unggah – ungguh dan kenal dengan semua saudara yang ada…Dari hal itu aku mengerti, dalam kesederhanaan hidupnya simbah selalu mengajarkan kita jangan sampai lupa kepada para leluhur dan semua keturunannya. Dengan demikian kita sebagai seseorang jadi mengerti akan tatakrama dalam pergaulan sesama saudara.
Dan yang paling menentukan jalan hidupku sekarang ini adalah di dalam rumah inilah aku mulai mempunyai cita – cita sesudah aku besar nantinya. Cita – citaku itu kumulai dengan belajar yang rutin walau tidak terlalu tekun… Di dalam rumah itu simbah memiliki Meja Besar dan kursi panjang yang digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga. Semua aktifitas kekeluargaan seperti, makan, belajar, bersandau gurau, bercerita sering kami lakukan di situ… Dan disitulah tempat aku berandai-andai tentang cita-citaku nantinya, dan Alhamdulillah apa yang kuimpikan sejak kecil itu kini telah tercapai. Aku yakin kesemuanya itu ada andil dari simbahku.
Simbahku berdua kini telah tiada. Simbah yang telah merawat, melindungi, mangasah, mengasih dan mengasuhku sejak kecil, kini semua itu hanya kenangan yang selalu terbayang. Senyum dan tawa simbah yang kadang sering muncul dalam mimpiku. dan yang paling banyak kuimpikan adalah simbahku putrriku. Aku sering berjumpa beliau dalam mimpi – mimpiku. Semua itu mungkin karena dulu simbah pernah berjanji kepadaku akan membuatkan engkung ayam kalau aku sudah sembuh dari sunatku. Dan janji itu tidak pernah terbayarkan sampai simbah meninggal. Dan setiap setelah bermimpi itu, aku selalu berdoa “Mbah aku ikhlas simbah belum membuatkanku seekor engkung ayam, janji simbah sudah aku anggap lunas, karena untuk seekor engkung ayam buatku saat ini bukan sesuatu yang sulit lagi, semua itu berkat doa-doa simbah, dan utang janji simbah sudah aku anggap lunas, harapanku semoga simbah selalu tenang di alam sana. Sekarang hanya doaku untuk simbah berdua, semoga Allah mengampuni segala dosa – dosa simbah, menerima segala amal ibadah yang pernah simbah lakukan dan Allah menempatkan simbah di dalam surga milik Nya… Matur nuwun mbah.. simbah sudah banyak mengajarkan aku tentang arti kehidupan di alam terang benderang ini…
simbah adalah guru kehidupan yg bijak dgn sayang dan cinta kasihnya menelurkan guru yg sesungguhnya
BalasHapus